Memang tidak mudah untuk mendefinisikan apa arti dari
cinta. Karena cinta lahir dari setiap orang tanpa memandang latar belakang
apapun. Dan semua orang telah dianugerahkan oleh Allah Yang Maha Mencinta,
cinta-Nya (Rahmat) yang menaungi seluruh
alam. Disini saya tidak akan memberikan definisi tentang cinta, karena bagiku
untuk sekarang ini sangat sulit untuk membedakan antara cinta dan nafsu.
Jika ada sebuah pertanyaan dilontarkan kepadaku tentang
perbedaan antara cinta dengan nafsu, mungkin dengan mudah bisa menjawab dengan
pengalaman dan pengetahuanku yang minim. Akan tetapi dalam realitanya sangat
sulit untuk menyadari batasan-batasan antara keduanya. Karena terkadang
berbicara cinta, akan tetapi nafsu berselubung dan ikut campur di dalamnya.
Atau berbicara nafsu, yang sesungguhnya akan mengorbankan orang-orang yang aku
cintai ; keluarga, sahabat, Alquran dan diriku yang selalu terjerumus di
dalamnya.
Lebih adil jika aku mengatakan pada sumber yang
memberikan Cinta, Allah SWT yang telah menegaskan dalam Firman-Nya :
والّذين أمنوا أشد حبا الله .......
“Adapun orang-orang yang beriman, sangat besar cintanya kepada
Allah SWT” (Qs. Al-Baqarah : 165).
Sedikit mencoba ku menganalisa tentang cinta dan nafsu,
bahwa apa yang dikatakan orang tentang cinta yaitu “dari mata turun ke hati”
tidaklah benar adanya, karena yang dilakukan
justru menjauhkan diri mereka dari Allah dan melanggar syariat-syariat
yang telah ditetapkan-Nya, sehingga berujung pada nafsu (ammaroh Bissu’).
Untuk
sementara saya memberikan sedikit pendapat yang lebih tepatnya disebut sebagai
nafsu, “dari mata turun ke aurat”. Karena memang yang diinginkan oleh sebagian
orang yang mengatasnamakan nafsu dengan cinta, lebih mengedepankan nafsu. Hal
ini berakibat dari seseorang yang menginginkan mencintai dalam diam, agar bisa
terhindar dari nafsu yang melalaikan.
Sehingga
lebih tepatnya cinta dalam apa yang ku alami saat ini, “dari mata naik menjadi
Do’a”. Karena memang mencintai dalam diam tidak bisa sepenuhnya dibenarkan dan
tidak sepenuhnya disalahkan, tergantung bagaimana seseorang melihatnya dalam
perspektif yang berbeda.
Pendapatku
mengatakan lebih condong pada yang pertama, bahwa mencintai dalam diam tidak
sepenuhnya dibenarkan. Mencintai dalam diam membuat seseorang tersiksa dalam
diamnya, tidak mampu berucap pada siapa yang ia cinta. Dan aku hanya berharap
dalam doa, yakni bagi siapapun dia yang menjadi teman hidupku kelak.
·
Ghirah karena
Lillah
Cemburu
terkadang tak pantas. Tak pantas cemburu pada manusia yang memang belum diikat
oleh ikatan agama. Karena memang
tempatku berharap hanya kepada Allah SWT. Memang tidak dapat dihindari
perasan itu (cemburu) pasti ada, akan tetapi sebisa mungkin aku akan menahannya
dan menyerahkan semua urusan kepada Allah SWT. Karena begitu banyak
pengalamanku dalam hidup yang dilenyapkan oleh angan-angan tentang wanita.
Semua
apa yang dilakukan antara seseorang dengan lawan jenisnya akan berdampak pada
semua aktifitas kehidupan, tidak menutup
kemungkinan terhadap pemikirannya. Yang paling berbahaya menurutku adalah
ketika hal tersebut dapat melupakan dari mengingat Allah SWT. Karena Alquran
secara tegas memberikan ciri khas dari orang-orang munafik, yaitu mereka yang
sangat sedikit mengingat Allah SWT.
ولا يذكرون الله إلأ
قليلا ......
"Dan
mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali” (Qs. An-Nisa : 142)
Sabar
dan shalat adalah jalan terbaik dalam meminta pertolongan kepada Allah SWT.
Akan tetapi jika nafsu itu terus
meliputi jiwa para pecinta ilmu, maka ia akan menjadi penghalang dengan
ilmu tersebut dan penghalang kepada kedekatan Allah SWT (shalat), sehingga doa
pun terhalang, yang ada hanyalah angan-angan kosong tentang masa depan.
Imam
Ibnul Jauzi mengatakan bahwa ada makna-makna yang bisa mendukung kehidupan
shalat :
Pertama
:
Kehadiran
hati, maknanya adalah mengosongkan hati dari hal-hal yang mengusiknya.
Pendukungnya adalah Hasrat. Jika muncul hasrat yang hendak mengusik hatimu,
maka tidak ada jalan lain kecuali mengembalikan hasrat ini kepada shalat. Jika
engkau merasa hatimu tidak hadir ketika shalat, maka ketahuilah bahwa sebabnya
adalah iman yang lemah. Karena itu berusahalah untuk menguatkan iman.
Kedua
:
Memahami
makna-makna setiap bacaan. Ini termasuk pendukung kehadiran hati. Bisa saja
hati benar-benar hadir mengiringi setiap bacaan, tapi tapi tanpa makna. Maka
pikiran harus dikonsentrasikan untuk memahami maknanya, dengan menyingkirkan
lintasan-lintasan pikiran dan memotong obyeknya. Sebab jika obyeknya tidak
segera dipotong, lintasan pikiran tidak akan enyah. Karena obyek tersebut bisa
dzahir dan bisa batin.
Dengan
begitu kita bisa mengetahui hal-hal yang membuat shalat menjadi khusyu’ yakni
dengan kehadiran hati, yakni memahami bacaan yang kita baca ketika shalat dan
memotong jalan syahwat. Mencintai dalam do’a menghendaki aku berbuat demikian,
karena aku tidak ingin fokus pada nafsu lalu mengabaikan do’a yang lebih utama.
Selamat berjuang para pecinta yang mencari cinta-Nya. Kita mencinta pada Tuhan
yang sama, dan diberikan anugerah dari Tuhan Yang Maha memberikan cinta. Oleh
karena itu seharusnya kita menghendaki pada cara yang sama dalam menempuhnya.
Maroji’
: Minhajul
Qasidin hal 28