Saturday, August 25, 2018

MENULIS MENUJU KEMERDEKAAN BERPIKIR



Oleh: Ma’zumi 

            Beberapa hari yang lalu seluruh masyarakat Indonesia merayakan eurforia kemerdekaan tuju puluh tiga tahun. Even tahunan ini, jika ingin dikritisi secara matang masih cenderung mengurusi hal yang “Remeh-temeh.”  Beragam jenis perlombaan yang kurang bernilai akademis. Akibatnya, nilai-nilai patriotisme yang ditanamkan para leluhur bangsa, sekejap hilang bersama teriak-tawa.

            Tulisan ini hanya ingin mengajak merenung. Seandainya mereka masih hidup, ridhokah mereka melihat gelak-tawa memeriahkan euforia tersebut? Sedangkan mereka rela memperjuangkan 
tanah air dengan kobaran api semangat, lautan keringat yang dibanjiri darah mulia para syuhada.

            Penulis pernah membaca pendapat seorang tokoh pengamat sejarah yang mengatakan, “Indonesia masih dijajah 1000 tahun lagi.” Ironis memang. Namun hal tersebut membuktikan kepada kita bahwa Indonesia masih mempunyai PR berat untuk memerdekakan bangsanya. Merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menyampaikan pendapat di muka umum.


            Menulis menjadi salah satu metode atau langkah untuk memerdekakan pola pikir siswa secara akademis. Ada ungkapan menarik dari salah satu mentor saya, al-Ustaz Yudi Nurhadi. Beliau mengatakan, “Dengan menjadi penulis, kita merdeka secara berpikir.” Di sela-sela wawancara, ada kutipan menarik dari A. Fuadi (Novelis, Buku Negeri Lima Menara). Ia mengatakan, “Jangan terlalu fokus kepada Iqra (membaca) tetapi harus Uktub (Menulis).

            Kalimat sederhana tapi mempunyai makna yang dalam. Sebab, sepanjang penulis ketahui masih kurangnya perhatian dunia/lembaga pendidikan terhadap ranah literasi yang khusus pada bidang menulis. Akibatnya, nalar analisis pada siswa terkungkum dalam pemahaman yang sempit dan cenderung berpikir pragmatis.
          
Hakikatnya, lembaga pendidikan dan beragam aktifitas akademis di dalamnya tidak terlepas dari budaya literasi. Mengingat hal ini akan menjadikan nalar berpikir kaum terpelajar terpancing menjadi emosi berpikir kreatif akademis. Sumber buku perpustakaan yang minim, kurangnya minat membaca nampaknya masih menjadi masalah yang serius. Penyakit kronis yang amat susah untuk disembuhkan. 


Dilansir dari situs CNN Indonesia. Minat baca masyarakat Indonesia disebut masih rendah bila dibandingkan negara lain. Dari data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun.

Dliansir dari Kompas (9 april 2018) memberitakan tentang survei Unesco di tahun 2012. Minat baca orang Indonesia mengkhawatirkan. Menurut survei UNESCO 2012, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen: di antara 1.000 warga negara Indonesia, hanya ada seorang yang serius baca.

Miris memang. Namun seperti itu realita di lapangan. Menulis memang mempunyai manfaat yang beragam. Salah satunya adalah pemikiran kita bisa dikenal oleh seseorang. Manfaat menulis tidak akan hilang meskipun penulis sudah terkubur di dalam tanah. Teringat ungkapan Chairil Anwar, “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi.” Terbukti. Sampai saat ini karya-karyanya masih bisa dinikmati penikmat sastra.


Tidak lupa ulama-ulama terdahulu yang saat karya pemikiran mereka “Tertulis” dalam bentuk kitab-kitab klasik. Masih bermanfaat keilmuannya. Terbayang, seberapa besar keberkahan/pahala yang mengalir hingga saat ini. Namun, dalam tulisan ini hanya mengajak pembaca untuk menuju kemerdekaan berpikir. Tidak terkekang dalam pemahaman yang sempit.

Untuk itu, tatkala lembaga pendidikan tidak memperhatikan dunia literasi. Maka bersiap-siaplah mencetak generasi pelajar pragmatis. Hal yang menjadi problematika besar adalah, pendidik tidak mampu membedakan antara lembaga pendidikan dan lembaga bisnis. Tidak pula mampu menganalisis lembaga pendidikan dan lembaga politik. Mengejar kuantitas tetapi apatis terhadap kualitas.

Wednesday, May 9, 2018

BEBAN HIDUP

Kisah fiktif santri, kritik sosial.

Emon dan Unes suatu ketika mengadu permasalahan hidup. Dua santri cerdik dan cerdas ini ternyata memiliki masalah hidup yang besar, beban hidup yang menurutnya sudah tidak dapat ditangani dengan kecerdikannya. Untuk itu, ia mengadu permasalahan ini kepada Kang Ustaz.

Alih-alih mendapatkan solusi, Kang Ustaz malah menasihati mereka agar jangan menjadi beban hidup bagi orang lain.

Unes, "Kami butuh solusi Ustaz!" Pintanya dengan penuh harap.

Utaz, "Janganlah mengeluh tentang beban hidup, dan janganlah hidupmu menjadi beban buat orang lain. Beban mata, beban telinga, beban intelektual, beban umat." Jawabnya.


Emon yang lama terdiam, tiba-tiba bertanya, "Apa maksud dari jawaban panjenengan Ya Ustaziy (wahai guruku)?"

Ustaz, "Semua orang mempunyai beban hidup, tinggal bagaimana kreatifitas manusia menghadapinya. Yang perlu kalian perhatikan adalah agar jangan menjadi beban hidup bagi orang lain:

1. Beban mata: Jangan sampai orang yang melihat perilakumu, mereka terasa bosan karena apa yang kamu lakukan merugikan orang lain, sehingga mata mereka tidak ridho. Kehadiranmu di mata manusia tidak diharapkan. Bahkan terhadap orang-orang terdekatmu.

2. Beban Telinga: Jangan sampai orang lain sibuk mendengar kabar aibmu, sementara kamu senantiasa merasa nyaman dengan perbuatan dosa-dosamu. Hal ini dikarenakan banyaknya dosa-dosamu terhadap ligkungan sekitar yang merugikan orang lain.

3. Beban Intelektual: kalian adalah orang-orang berpendidikan, jangan sampai perilakumu mencederai gelar akademisimu. Melakukan hal-hal sepele yang tidak layak disandang bagi kaum terdidik.

4. Beban Umat: janganlah hidup mementingkan diri sendiri, berlomba-lomba meminta tanpa ada hasrat untuk memberi. Umat masih membutuhkan sosok seperti kalian, yang menebar manfaat sesuai dengan peran masing-masing."


Mendengar nasihat tersebut, keduanya mengurungkan diri untuk meminta solusi lebih lanjut. Mereka paham apa yang harus mereka lakukan. Akhirnya mereka mohon pamitkarena merasa beban hidupnya telah hilang.



_fiktif.santrikritiksosial_

Ketika Santri Jatuh Cinta

Bagian.1.
- Layang- Layang Lepas


Ahsan. Nama yang tidak begitu diperhitungkan. Terlahir dari dua pasang suami istri yang berlatar belakang petani. Shobron dan Jamilah, begitulah nama kedua orang tuanya.

 Bernama lengkap Ahsantu. Ia tak mengetahui arti dibalik nama itu. Yang ia rasakan, hanyalah sebagai anak kecil yang lugu dan manja, dari kedua orang tuanya yang terkenal kaya raya di Desanya. Bisnis yang tiada merugi, serta sawah yang terbentang luas, seluas mata memandang. Tiada peduli berapa hektar sawah punya orang tuanya, serta berapa besar kekayaan orang tuanya. Karena semua orang mengetahui dan mengenal nama serta kekayaannya.

Wataknya yang pemalas dan senang bermain, membuatnya sering dicari kedua orang tua. Utamanya tatkala waktu shalat telah tiba dengan tanda azan berkumandang. Ke pelosok manapun, ibunya selalu mencari Ahsan agar tak lupa menjalankan shalat lima waktu tepat pada waktunya. Meskipun Ahsan sendiri sering jauh bermain layang-layang, hingga layang-layang putus pun tak luput dari pantauan matanya untuk dikejar. Sejauh apapun ltu.

Alasannya sangat singkat. Ia tidak mau diajak oleh ibunya hanya untuk sekedar pergi ke sawah. Karena menurutnya, di sawah yang ia temui hanyalah hamparan pemandangan yang dipenuhi padi hijau. Setelah didekati, yang dilihat hanyalah galian tanah liat yang kotor, dipenuhi ulat-ulat kecil, cacing, hama, dengan suasana di bawah terik matahari yang panas.

Jika ia memaksakan diri pergi ke sawah dengan Ibu, maka yang ia rasakan adalah bagaimana panasnya matahari menyengat kulit, gatal-gatal yang dirasa. Sebab itulah, ia lebih memilih menghindar dari sawah, memilih asyik bermain layang-layang dengan tantangan masa kecil yang mengesankan.



Monday, April 23, 2018

Manusia Tanpa Buku

Oleh: Ma'zum Ibn Shabir
Alumni MTA Al-Amien Prenduan, 2012.

            Manusia sebagai makhluk Allah Swt yang mulia, tentu diberikan keistimewaan yang lebih dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya. Keistimewaan tersebut terkandung dalam penciptaannya dengan bentuk dan rupa yang sempurna. Ditambah dengan akal yang berfungsi membedakannya dengan hewan.


            Dalam kajian filsafat, akal menempati  urutan pertama yang dikaji dan sebagai sumber panduan menjalani kehidupan. Imam Ibnul Jauzi mengatakan, “Dengan akal, manusia dapat mengatasi berbagai kesulitan, menegaskan jati dirinya sebagai makhluk yang lebih mulia dibanding binatan. Dengan akal itu pula ia dapat membuat kapal yang dapat mengantarkannya ke seberang lautan luas, mampu  menaklukkan gelombang.”


            Al-Hasan berkata, “Agama seseorang tidak akan bisa sempurna sampai akalnya menjadi sempurna. Allah tiada menitipkan akal kepada seseorang, melainkan agar suatu saat nanti bisa digunakan untuk menyelamatkan dirinya.” Atha’ bin Abu Rabah pernah ditanya, “Apa yang paling utama yang diberikan kepada manusia?” Ia menjawab, “Akal yang berasal dari Allah.” (Jauzi, 2014: 17).

            Buya Hamka mengatakan, “Sebelum Islam mengajak pemeluknya mencapai segala keperluan yang berhubungan dengan dunia, lebih dahulu diajak mempergunakan segenap upaya bagi membersihkan akal; dalam paham, jitu pikiran dan jauh pandangan. Agama Islam amat menghormati akal. Karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu, Islam adalah agama ilmu dan akal.”       Akan tetapi akankah akal mampu berjalan sendiri tanpa adanya panduan?

            Nabi Muhammad Saw. tatkala sebelum diangkat menjadi nabi dan rasul, ia dihinggapi dengan kegelisahan kaum kafir Quraisy yang semakin bertambah kejahiliyahannya. Hingga sampai pada tahap mengotori rumah suci Allah Swt. dengan berbagai macam berhala di sekelilingnya, hingga berjumlah 360 berhala.

            Kegelisahan ini membawanya untuk menjauh dari gemerlap kota Mekkah yang diliputi dengan berbagai macam penyimpangan tersebut. Gua Hira menjadi pilihannya. Merenung dan berzikir, tentang pencarian hakikat dan solusi dari apa yang sedang dihadapi. Hingga turunlah lima ayat pertama dalam Surat al- ‘Alaq, dengan perintah pertama diawali dengan kata Iqra’ (Bacalah!).

            Hemat penulis, kegelisahan Rasulullah Saw. tersebut dijawab oleh Allah Swt. dengan menurunkan al-Qur’an sebagai panduan hidup. Tentunya al-Qur’an saat ini sudah berbentuk kitab yang tersusun rapi urutan surat dan ayatnya. Sudah lengkap menjadi panduan hidup bagi manusia hingga akhir zaman.

            Ibarat seseorang yang hendak melakukan perjalanan jauh, tentulah orang tersebut membutuhkan peta/petunjuk arah agar perjalanannya tidak salah arah atau tersesat. Atau perumpamaan lain, seseorang yang hendak menjalankan mesin (Mobil, motor dsb) membutuhkan buku panduan.


            Perkembangan teknologi yang semakin melesat, menuntut sebuah gerakan pemikiran untuk mengimbangi dampak negatif yang ditimbulkan. Jika tidak, maka kebergantungan manusia terhadapnya akan menjadi penyakit umat yang sulit untuk diatasi. Dalam hal ini adalah Gadget/Smartphone yang berhasil mengalihkan dari hal-hal yang bermanfaat.

            Gadget sudah menjadi gaya hidup. Kehadirannya bukan lagi sekedar alat komunikasi, tetapi sudah menjadi panduan dalam menjalankan sebagian aktifitas kehidupan. Dampak negatif yang sangat serius adalah ketika benda kecil ini telah mengalihkan penggunanya dari “Sumber ilmu pengetahuan” yaitu buku.

            Ketika manusia terjauhkan dari buku, secara otomatis ia menjadi pribadi yang miskin intelektual.  Generasi yang terjangkit penyakit model ini, sangat sulit untuk disembuhkan. Terlebih jika sudah merasuk ke dalam dunia pendidikan. Contoh kecil, seorang santri yang dijenguk oleh kedua orang tuanya, tatkala diberikan gadget oleh orang tuanya, maka hilanglah kehangatan keluarga. Ia lebih memilih mencari perhatian di dunia maya, dibanding perhatian orang tuanya.

            Kasus tersebut menjadi PR besar bagi para orang tua. Ia harus mampu bersaing dengan benada mati yang menurut anaknya lebih menarik. Bagaimana jika virus ini menjangkit para pendidik? sekali lagi, generasi tanpa buku akan melahirkan tunas yang miskin intelektual.

            Seseorang tidak mungkin bisa menyampaikan ilmu tanpa sumber (buku). Pendapat akal seharusnya menjadi interpretasi dari proses membaca. Bukan sebaliknya. memang, di dalam Gadget bisa dimanfaatkan untuk membaca berbagai macam literature dengan mendownload bermacam-macam e-book dengan gratis. Akan tetapi, perlu kiranya kita berpikir kritis, semudah itukah memahami suatu ilmu?

            Al-Ustaz Samson Rahman M.A (penerjemah buku La Tahzan/Jangan Bersedih!) pernah mengatakan dalam salah satu akun sosialnya, “Seseorang bisa saja membeli banyak buku, tetapi tidak semua orang bisa membeli pemahaman.” Karena, untuk memperoleh pemahaman dibutuhkan seorang guru dengan ketajaman analisis terhadap suatu ilmu.

            Untuk itu, guru berperan penting dalam memberikan pemahaman dari pesan-pesan yang tersirat dari sebuah buku tersebut. Memberikan pemahaman berdasarkan ilmu. Inilah tradisi ilmu yang perlahan mulai menghilang; menyampaikan ilmu berdasarkan sumber (buku) yang dapat dipercaya. 

            Guru dan buku adalah dua sisi yang tidak boleh dipisahkan. Ibarat kedua sisi mata uang, jika salah satunya hilang maka sudah menjadi barang yang tidak lagi bernilai. Sedangkan generasi tanpa buku, seperti kelompok kaum yang sedang dalam perjalanan. Tiada panduan, maka akan tersesat.

Al-Qur’an Sebagai Kalamullah



Oleh: Ma’zum Ibn Shabir
Alumni MTA Al-Amien Prenduan 2012, Conspirailent.

            Hari ini kita kembali diguncangkan dengan opini dalam beragama. Setelah kasus sebelumnya yang sempat viral tentang puisi Ibu Sukmawati Sukarno Putri. Tentang kitab suci, apakah dibenarkan ketika seseorang mengatakan kitab suci sebagai sesuatu yang bersifat fiksi?

            Agar lebih adil, terlebih dahulu kita bahas secara dikotomis. Antara kitab suci kaum muslimin dan kitab suci non muslim. Sebagai kaum muslimin, tentu pasti meyakini bahwa kitab suci non muslim  adalah fiksi, sebab di dalamnya sudah terjadi revisi sesuai dengan kehendak nafsu mereka.

            Akan tetapi, al-Qur’an sendiri secara tegas menolak dikatakan sebagai kitab yang fiksi. Sebagaimana firman Allah Sw, “..al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Qs.Yusuf:111).

            `Pandangan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Al-Qur’an lebih tepatnya disebut sebagai Kalamullah (Perkataan Allah). Ketika dikatakan sebagai Kalamullah maka tidak mungkin terlepas dari-Nya. Berbeda dengan jika dikatakan sebagai kitab fiksi. Karena fiksi adalah wilayah akal manusia. Hal serupa pernah dikatakan oleh Faham Muktazilah yang mengatakan al-Qur’an adalah “Makhluk.”

            Lantas apa perbedaan antara Kalamullah dan Makhluk? Kalamullah tidak mungkin terlepas dari zhat-Nya, sedangkan makhluk (ciptaan) terlepas dari-Nya. Ibarat seseorang berbicara dan berbuat sesuatu. Maka, pembicaraan tersebut merupakan bagian dari esensi pribadi (Hasil pikiran) yang tidak pernah lepas. Sedangkan apa yang manusia perbuat menghasilkan suatu benda (Gedung dan lain-lain) maka, hal itu terpisah darinya.

            Terkenanglah kisah tentang kesungguhan seorang ulama yang bernama Imam Ahmad bin Hambal yang berpegang teguh dengan pendiriannya bahwa al-Qur’an adalah Kalamullah dan bukan makhluk. Pada pemerintahan sebelum al-Makmun, yakni di zaman Khalifah Harun al-Rasyid ada seorang ulama yang bernama Basyar al-Marsyi yang berpendapat bahwa al-Qur’an adalah makhluk.

            Harun al-Rasyid tidak menerima pendapat ini. Bahkan terhadap orang yang mengatakannya diberi hukuman berat. Ketegasan khalifah ini menyebabkan Basyar melarikan diri ke Baghdad. Harun al-Rasyid pernah berkata, “Kalau umurku panjang dan dapat berjumpa dengan Basyar, maka akan ku bunuh dia dengan cara yang belum pernah aku lakukan terhadap yang lain. Akhirnya selama 20 tahun Basyar tetap dalam pelariannya.

            Setelah Harun al-Rasyid meninggal dunia dan digantikan oleh putera beliau Al-Amien barulah Basyar berani menampakkan diri. Diapun kembali melontarkan pendapatnya bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Namun, Khalifah al-Amien sependapat dengan mendiang ayahnya, yakni menentang pendapat tersebut dan mengancam siapapun yang mengatakannya dengan hukuman yang berat.
            Baru kemudian setelah pemerintahan jatuh ke tangan saudara al-Amin, yakni al-Makmun faham tentang kemakhlukan al-Qur’an diterima. Al-Makmun bukan hanya terpengaruh, tetapi juga memerintahkan semua rakyatnya agar mengikuti faham tersebut. Dan barang siapa yang berpendapat lain akan dihukum dengan seberat-beratnya. Banyak sekali ulama yang mengikuti pendapat ini karena takut disiksa.

            Maka Imam Ahmad bin Hambal adalah ulama yang satu-satunya yang bersikeras menentang pendapat tersebut dan siap menghadapi apapu risikonya. Secara terus terang, beliau mengatakan di hadapan Khalifah al-Makmun bahwa al-Qur’an bukan makhluk (Yang dijadikan Allah) melainkan Kalamullah. Beliau pun ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

            Dihadapkanlah Imam Ahmad untuk ditanya pendiriannya. Namun, beliau tetap dengan pendiriannya bahwa al-Qur’an bukanlah makhluk, melainkan Kalamullah. Dan beliau pun menegaskan tidak akan mencabut pendiriannya, walau apapun yang terjadi. Mendengar pernyataan Imam Ahmad, Khalifah langsung memerintahkan kepada prajurit untuk mencambuk beliau.

            Ketika cambukan pertama mengenai punggung beliau, beliau berucap, “Bismillah”. Ketika cambukan kedua beliau berucap, “La haula wala quwata illa billah”. Ketika cambukan yang ketiga beliau berucap, “Al-Qur’an Kalamullah, bukan makhluk!” dan ketika cambukan keempat beliau membaca ayat, “Katakanlah bahwa sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang sudah ditetapkan Allah kepada kami.

            Penyiksaan dan faham kemakhlukan al-Qur’an masih saja terjadi meskipun telah berganti pemerintahan. Ketika Khalifah al-Makmun meninggal dunia pada tahun 218 (833) digantikan oleh saudaranya bernama Ishaq bin Muhammad bin Harun al-Rasyid yang bergelar al-Mu’tashim billah. Faham kemakhlukan ini masih dijalankan. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal mendapatkan penyiksaan tatkala masih berpuasa di bulan Ramadhan.

            Setelah al-Mu’tasim, digantikan lagi oleh puteranya al-Watsiq yang juga masih mempertahankan faham kemakhlukan al-Qur’an. Akan tetapi, setelah al-Watsiq meninggal dan digantikan oleh saudaranya bernama al-Mutawakkil faham Mu’tazilah tersebut dicabut dan semua ulama dibebaskan termasuk Imam Ahmad bin Hambal.

            Demikian kisah perjuangan para ulama mempertahankan keotentikan al-Qur’an. Karena mereka memahami bahwa al-Qur’an bukanlah kitab suci fiksi, melainkan adalah Kalamullah yang tidak terlepas dari zhat-Nya. Hal serupa pernah terjadi pada tokoh-tokoh ulama Ahlussunnah wal Jama’ah. Imam al-Bukhari keluar dari daerahnya melarikan diri sambil berdoa, “Ya Allah, genggamlah aku pada-Mu dalam keadaan selamat dari fitnah.” 


Sumber: Kitab Jauharu at-Tauhid, Syeikh Ibrahim al-Laqqani

Indonesia Dalam Pandangan Ibnu Khaldun



Oleh: Ma’zum Ibn Shabir
Alumni MTA Al-Amien Prenduan 2012.
            Kisaran tahun 2014-2019 bisa dikatakan sebagai tahun politik. Pasalnya, ada satu titik pembahasan yang sangat menarik untuk dikaji. Tentang peran pemimpin dalam merubah rakyatnya menjadi lebih baik, memakmurkan bumi, dan memanusiakan peradaban manusia. Termasuk di dalamnya isu-isu tentang kebangkitan PKI, liberalisme, tenaga kerja asing, dan bangkitnya nuansa jihad kaum muslimin.

            Dalam hal ini Islam memiliki tokoh penting yang berpengaruh melalui pemikirannya tentang kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Ialah Ibnu Khaldun, meskipun dalam beberapa hal para ahli menyebutnya sebagai Bapak Ekonomi (father of economics) yang sebenarnya, atau dengan sebuatan Bapak Ilmu Sosial Modern (father of modern social science).


            Dr. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of Aberdeen. Scotland dalam artikelnya, “The Islamic Review and Arabic Affairs” di tahun 1970-an mengomentari karya-karya Ibnu Khaldun, ia menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya satu-satunya tradisi intelektual yang diterima dan diakui dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam Bahasa inggris (Ibnu Khaldun, Mukaddimah, 2017:xiv).

            Pantaslah jika Ibnu Khaldun memiliki andil besar yang berpengaruh dalam perkembangan intelektual kaitannya dengan ranah sosial peradaban manusia. Menurutnya, negara dalam perkembangannya bisa dilalui dengan lima tahap (Ibnu Khaldun, Mukaddimah, 2017:x). Pertama, Tahap Pendirian Negara. Ini merupakan tahap untuk mencapai tujuan, penaklukan, dan merebut kekuasaan. Menyatukan upaya untuk tujuan yang sama, mempertahankan diri dan menolak atau mengalahkan musuh.

            Kedua, Tahap Pemusatan Kekuasaan. Pemusatan kekuasaan adalah kecenderungan yang alamiah pada manusia.  Ketiga,Tahap Kekosongan. Adalah tahap untuk menikmati buah kekuasaan seiring dengan watak manusia, seperti mengumpulkan kekayaan, mengabadikan peniggalan-peninggalan dan meraih kemegahan. Negara pada tahap ini sedang berada pada puncak perkembangannya.

            Keempat, Tahap Ketundukan dan Kemalasan. Pada tahap ini, negara dalam keadaan statis, tidak ada perubahan apapun yang terjadi, negara seakan-akan sedang menantikan permulaan dari akhir kisahnya. Kelima, Tahap Foya-foya dan penghamburan kekayaan. Negara telah memasuki masa ketuaan dan dirinya telah diliputi penyakit kronis yang hampir tidak dapat ia hindari dan terus menuju keruntuhan.


            Demikian analisis yang begitu matang oleh Ibnu khaldun dalam kitabnya Mukaddimah. Ia juga dikenal sebagai politisi yang sangat memahami dunia politik Islam pada abad ke empat belas. Dengan melihat keruntuhan dan kelemahan yang menimpa dunia Islam pada umumnya, serta mengamati sendiri kemunduran kebudayaan Arab-Islam di Andalusia di bawah tekanan pasukan Spanyol (Ibnu Khaldun, Mukaddimah, 2017:xi).

            Lalu bagaimana analisis dari kelima poin tersebut ketika dihadapkan dengan kondisi sosial-politik Indonesia saat ini? Jika dilihat dari sudut pandang pertama, maka masa tahap pendirian negara boleh dikatakan tatkala Indonesia meraih kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 pasca dijajah 350 tahun lamanya. Kemudian masuklah pada tahap kedua, yakni Pemusatan Kekuasaan. Hal ini ditandai dengan Ir.Sukarno sebagai Presiden pertama yang memproklamasikan kemerdekaanIndonesia dengan pembagian wilayah dan jabatan kekuasan.

            Adapun pada tahap ketiga dan keempat, yakni fase kekosongan dan ketundukan/kemalasan. bisa dilihat dari ulah para elit negara yang memanfaatkan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri, duduk manis menikmati hasil jerih payahnya selama masa kampanye. Alih-alih menjadi pelayan masyarakat, yang ada masyarakat terpaksa menjadi pelayan baginya.

            Jika potret pemimpin seperti itu, maka yang terjadi adalah tumbuhnya generasi pemalas. Generasi penikmat yang hidup dalam hayalan akan kemerdekaan fisik. Padahal secara intelektual bisa dikatakan sedang terjajah. Sehingga, terlalu hidup dalam angan-angan kemerdekaan, sedangkan kaki tidak mampu berpijak pada realita yang ada.

            Dampak yang paling menakutkan adalah pada tahap Kelima. Tatkala penghamburan kekayaan tidak hanya dilakukan oleh elit petinggi negara, tetapi juga dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Hal ini mungkin saja terjadi tatkala masyarakat salah dalam memilih pemimpin. Hemat penulis, satu individu yang salah memilih pemimpin mengakibatkan seribu tahun menderita dipimpin oleh mereka yang terpilih. Karena dampak negatifnya tentu akan dirasakan oleh generasi penerus.


            Negara menurut Ibnu Khaldun adalah suatu makhluk hidup yang lahir, mekar menjadi tua dan akhirnya hancur. Memiliki umur seperti makhluk hidup lainnya. Ia berpendapat bahwa umur suatu negara adalah tiga generasi, yakni sekitar 120 tahun. Satu generasi dihitung umur biasa bagi seseorang yaitu 40 tahun. Generasi pertama hidup dalam hidup dalam keadaan primitive, yang keras dan jauh dari kemewahan dan kehidupan kota. Masih hidup di pedesaan dan padang pasir (Ibnu Khaldun, Mukaddimah, 2017:x).

            Generasi kedua, berhasil meraih kekuasaan dan mendirikan negara. Sedangkan generasi ketiga, negara mengalami kehancuran, sebab generasi ini tenggelam dalam kemewahan, penakut dan kehilangan makna kehormatan, keperwiraan dan keberanian. Jika dilihat dari perhitungan tersebut, maka lama waktu terjajah Indonesia (350 tahun)  tidak seimbang dengan perhitungan tentang peralihan generasi yang dikatakan oleh Ibnu Khaldun.



Sumber: Mukaddimah Ibnu Khaldun

MENULIS MENUJU KEMERDEKAAN BERPIKIR

Oleh: Ma’zumi              Beberapa hari yang lalu seluruh masyarakat Indonesia merayakan eurforia kemerdekaan tuju puluh tiga tah...