Saturday, January 12, 2019

Pemimpin Berkarakter



Oleh: Ma’zumi, S.Pd

Kekuasaan menurut Ibnu Khaldun merupakan jabatan kedudukan yang alami bagi manusia. Seba, manusia tidak mungkin dapat melangsungkan hidupnya dan melanggengkan eksistensinya, kecuali dalam sistem kemasyarakatan dan saling membantu di antara mereka dalam upaya memperoleh kebutuhan-kebutuhan pokok (Mukaddimah:328).


Dalam tradisi pondok modern, mewajibkan para santrinya untuk melalui fase pendidikan karakter melalui media organisasi santri. Khususnya bagi santri senior, diberikan amanah untuk menjadi pemimpin. Hal ini yang sangat berbeda dengan karakter pendidikan yang tidak diperoleh dari sekolah umum.

Kemajuan pondok pesantren adalah buah dari pemikiran atau ide-ide pimpinan pondok, guru-guru, pengurus, serta pihak-pihak eksternal yang terkait. Lihatlah bangunan-bangunan atau program yang selalu berkembang, demikian adalah gambaran dari ide-ide pengurus tersebut dalam standar lembaga pendidikan. Selanjutnya, hal tersebut menjadi sebuah bekal bagi para santri dalam keikutsertaan membangun sebuah bangsa. 

Mereka (santri) dituntut untuk berimajinasi menata sebuah negara, membuat peraturan perundang-undangan, memberikan sanksi dan bersikap bijak sebagai pemimpin. Tentunya dalam koridor kepemimpinan yang memiliki teladan. Kesempatan emas inilah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh santri untuk menjadi sosok pemimpin idola mereka.


Dalam hal ini Umar bin Khattab pernah berwasiat, “Belajarlah sebelum kalian menjadi pemimpin.” Ima al-Bukhari mengomentari atsar ini, “Juga setelah kalian menjadi pemimpin, sebab, para sahabat tetap belajar meskipun sudah berusia lanjut.” Ibnu Hajar juga memberikan komentar, bahwa Abu Bakar mengatakan demikian khawatir dipahami bahwa kepemimpinan itu menghalangi seseorang untuk terus belajar. (Ensiklopedi Sahabat:187).

Menjadi pemimpin, harus bersiap diri menjadi jiwa pembelajar. Belajar dari kepemimpinan orang-orang yang benar. Jujur, adil, sederhana, mencintai rakyatnya, dan rakyat pun akan mencintainya. Lihatlah Abu Bakar ash-Shiddiq, pemimpin yang rakyat pun segan terhadapnya. Umar pun pernah mengatakan, “Lebih baik aku didahului lalu leherku ditebas oleh seseorang daripada diharuskan memimpin suatu kaum yang di antara mereka terdapat Abu Bakar.”

Abu Bakar terkenal dengan sifat lemah lembut. Akan tetapi mempunyai ketegasan yang tajam. Tatkala menjadi khalifah, ia dengan tegas memberangkatkan pasukan perang muslimin yang dipimpin oleh seorang Usamah bin Zaid (berumur 18 tahun) untuk berperag melawan romawi. Tidak sedikit sahabt memprotes keputusan tersebut. Akan tetapi, karena ini adalah amanah Rasulullah Saw sebelum wafat, Abu Bakar tetap berkomitmen.

Akhirnya denga izin Allah Swt. pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid memperoleh kemenangan. Padahal, jika dilihat dari sisi sosial-politik di Madinah yang masih kacau-balau tersebut, keputusan tersebut sangatlah berisiko besar bagi keamanan masyarakat di Madinah.

Ali bin Abi Thalib memberika komentar terhadap kepemimpinan Abu Bakar, “Engkau telah membuat orang setelahmu lelah, selelah-lelahnya.” Ungkapan ini menurut Ahli Sejarah, Ustadz Budi Ashari, Lc bermakna bahwa kepemimpinan Abu Bakar sangatlah susah untuk ditiru khalifah setelahnya sehingga membuatnya lelah. Demikian dalam berorganisasi, generasi pemimpin setelahnya mempunyai beban berat, yakni mewujudkan kepemimpinan yang lebih baik dari sebelumnya. 


Berbeda dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab mempunyai karater yang khas. Dengan ketajaman ilmu yang dimiliki. Umar adalah sosok pemimpin yang memiliki perpaduan antara ilmu dan amal, dibarengi dengan ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan hukum. Tatkala akan diangkat menjadi seorang khalifah, Abdurrahman berkomentar atas perintah Abu Bakar, “Demi Allah, dia orang paling utama yang pernah kulihat, hanya saja sifatnya keras.”

Abu Bakar menanggapi, “Yang demikian itu karena dia melihatku terlalu lembut. Apabila urusan kekhalifahan ini diserahkan kepadanya, niscaya sifat keras itu akan luluh.” Dan benar saja, tatkla menjadi Khalifah ia berpidato di hadapan rakyatnya.

“Ketahuilah bahwa sifat keras itu telah melemah; memang masih ada, tetapi ia hanya ditujukan kepada orang-orag zalim dan orang-orang yang menyakiti kaum muslimin. Adapun mereka yang taat beragama dan bersahaja dalam kehidupan ini, sungguh aku lebih bersikap lemah lembut terhadap mereka daripada kelembutan yang terjalin di antara kalian.”

Dalam  berorganisasi, tidak semua anggota bagian dituntut untuk menjadi keras. Harus ada salah satu yang bersikap lembut. Hal ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Seperti dua karakter khusus yang dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar. Selanjutnya, banyak karakter pemimpin dalam Islam yang patut ditiru dan dipelajari kehidupannya. Karena pemimpin yang baik pasti dicintai oleh rakyatnya. 

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalia membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah menentang mereka dengan pedang? Rasulullah Saw bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no.1855).















Tantangan Generasi Millenial



Oleh: Ma’zum Ibn Shabir, S.Pd
 
            Sebagaimana diketahui secara umum, masa muda merupakan fase usia yang hanya satu kali dilewati seumur hidup. Kesempatan ini, memaksa mereka untuk memilih antara “Mengisi usia dengan prestasi” atau “Membiarkan terbawa arus zaman” tanpa adanya dorongan untuk berkembang dan mandiri, menjadi pribadi yang berdikari.


            Dilansir dari Wikipedia, bahwa karakteristik Generasi Milenial berbeda-beda berdasarkan wilayah dan kondisi sosial-ekonomi. Namun, generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Di sebagian besar belahan dunia, pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi.

            Hal ini memiliki dampak yang besar pada generasi ini yang mengakibatkan “Tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan anak muda.” Dan menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan krisis sosial-ekonomi jangka panjang yang merusak generasi ini. Lalu bagaimana mengawal generasi ini agar menjadi generasi produktif dan siap meneria tantangan di era globalisasi?

            Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas ra. Berkata, Suatu hari aku berada di Belakang Rasulullah Saw., (membonceng). Beliau bersabda, “Nak! Aku hendak mengajarimu beberapa kalimat: Jagalah Allah, pasti Dia menjagamu. Jagalah Allah, Dia senantiasa bersamamu. Jika kamu memohon sesuatu, mohonlah kepada-Nya. Jika meminta pertolongan, minta tolonglah kepada-Nya,

Ketahuilah, seandainya semua umat manusia bersatu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, mereka tidak akan mampu, kecuali yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Dan senadainya semua umat manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu, kecuali keburukan yang telah ditetapkan Allah untukmu, pena telah diangkat dan pena telah kering.” (HR.Tirmidzi. Dia berkata, hadits ini hasan shahih).


Riwayat lain menyebutkan, “Jagalah Allah, pasti kamu selalu bersama-Nya. Kenalilah Allah saat kamu lapang, pasti Dia mengenalimu saat kamu susah.  Kethauilah, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah, kemenangan seiring dengan kesabaran, jalan keluar seiring dengan cobaan, dan kemudahan seiring dengan kesulitan.”

Dalam teks arab, Rasulullah memanggil Abdullah bin Abbas dengan kalimat, “Ya Ghulam”, Wahai Anak Kecil!” Dr. Musthofa Dieb al-Bugho Muhyidin Mistu menjelaskan kata Ghulam berarti anak kecil dari usia 2 tahun hingga umur 9 tahun. Sedangkan umur Ibnu Abbas ra. Saat itu sekitar sepuluh tahun. Sungguh merupakan sesuatu yang sangat berharga, anak se-usia tersebut diberikan nasihat yang agung oleh Rasulullah Saw. Tentang pendidikan dan keimanan, tentang keteguhan hati dalam menjalani problematika hidup.

Di era globalisasi ini kita dihadapkan dengan problematika hidup yang begitu kompleks. Dari berabagai jenjang usia secara universal. Terkadang pula kita bingung menghadapinya dengan cara apa? Setidaknya, sebagai generasi muda dapat mengambil hikmah dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. kepada Abdullah bin Abbas ra. Karena awal percakapan tersebut dimulai untuk memotivasi generasi muda muslim.

Jagalah Allah, niscaya Allah Menjagamu.” Dr. Musthofa Dieb al-Bugho Muhyidin Mistu menjelaskan maksud kalimat tersebut agar berkomitmenlah terhadap perintah-perintah Allah Swt. jangan mendekati atau melanggar batasan-batasannya. Laksanakan apa yang diwajibkan dan jangan meremehkan sedikitpun, dan jauhilah apa yang dilarang. Setelah itu lihatlah bagaimana Allah Swt menjaga aqidahmu, menjaga dari gejolak nafsu dan kesesatan, melindungimu dari godaan setan baik dari bangsa Jin dan Manusia.

Realita problematika hidup tidak terlepas dari tantangan yang mengikat. Setiap zaman, selalu menyuguhkan tingkatan tantangan yang berbeda. Anak-anak muda yang tidak mempunyai ideologi  berpikir positif, cenderung lebih mudah terbawa oleh arus media yang mengekang; dunia terlalu sempit dalam genggaman tangan.

Terlalu banyak teman di media sosial, tetapi semakin sedikit kegiatan pro-sosial. ruang lingkup sempit sebatas pada dunia maya dalam genggaman. Akibatnya, pola pikir mereka lebih mudah teracuni oleh angan-angan kesuksesan tanpa berbuat dan bergerak. Lebih menakutkan lagi adalah tumbuhnya agamawan baru  yang terlalu berani menyaingi ulama dalam berijtihad.

Dampak negatif tersebut, tentu melahirkan ketakutan yang luar biasa dalam pikiran generasi millennial. Ketika mereka merasakan gagal, mereka tidak berani bertindak. Karena tindakannya hanya berani dalam angan-angan belaka. Rasa takut terhadap masa depan, cita-cita, pendidikan, karir, kebahagiaan dan harapan, sirna sudah dengan pola pikir dan perilaku yang mengekang sendiri.


Jika dipahami baik-baik. hadits yang dijelaskan di atas sudah cukup menjadi pedoman/solusi bagi generasi muda dalam menjadikan dirinya sebagai pribadi yang berkarakter  dan siap bertarung menghadapi problematika hidup. Karena ia meyakini dengan keimanan, tidak ada yang ia takuti kecuali ketetapan yang telah dituliskan oleh Allah Swt untuknya.

Salah seorang pakar sejarah Islam, Ustaz Buadi Ashari L.c mengatakan, “Seorang muslim, asalkan menjalani syariat Islam dengan benar, maka ia akan menjadi pribadi yang mandiri.”  Maandiri dalam Islam bukan hanya berarti mandiri dalam perhitungan ekonomi, tetapi juga di dalamnya terkandung kemandirian bersikap dan berpikir. Dalam tradisi pondok modern, inilah yang biasa disebut sebagai istilah “Berpikir Bebas.” 

Sunday, January 6, 2019

Asa Tiada Akhir

Puisi Oleh: Ma'zum Ibn Shair 
Terdiam
Berpikir dan merenung
Bertadabbur dan berdoa
Sejauh mata memandang
Sedekat sebuah harapan

Semanis kalam impian
Secarik bait puisi
Seindah bunga yang baru mekar
Sejernih mata air mengalir

Mengingatkanku
Tentang langkah yang tak berujung
Tentang harapan yang tak pernah usai
Tentang rindu yang menggebu
Dan
Tentang rasa yang tak biasa

Dari hati yang bertafakkur
Dari mata yang menatap
Dari fikiran
Yang tiada akhir berharap
Tentang keterbatasan takdir
Dari harapan yang tiada akhir

Lebak, 13 05 2018
06.21 WIB.

Dimana Kamu

Puisi Oleh: Ma’zum Ibn Shabir

Dimana kamu
Aku menginginkanmu
Jangan bersembunyi terlalu lama
Aku juga tak kuasa menahan rindu ini

Dimana wajahmu
Aku ingin melukismu dengan kata-kata
Tentang garis perjuanganmu
Tentang semua pengorbananmu
Namun perjuangan kita belum usai
Keringat kita belum cukup

Maria
Hati adalah Satu
Setiap satu pasti merindu hati yang lain
Tatkala rindu menyapa
Hati ini harus saling bertemu
Meskipun jarak dan waktu memisahkan
Ku harap bertemu dalam asa yang sama

Dimana langkah kakimu
Izinkan aku menapakinya
Mengikuti jejak-jejak langkahmu
Lalu kita berjalan bersama

Dimana matamu
Aku ingin mengusap tangismu
Tangis lillah merindukan mahabbah
Aku ingin menatap matamu
Menatap matamu
Menatap masa depan kita bersama

Dimana tanganmu
Ku ingin genggamr erat dan takkan lepas
Sebab kedua tanganku tak cukup meraih masa depan kita
Genggamlah erat dan jangan lepaskan lagi


Nganjuk, 20-12-2018 pkl: 14-29

Pemimpin Berkarakter

Oleh: Ma’zumi, S.Pd Kekuasaan menurut Ibnu Khaldun merupakan jabatan kedudukan yang alami bagi manusia. Seba, manusia tidak mungki...