Monday, April 23, 2018

Pemimpin Berkarakter


Oleh: Ma’zum Ibn Shabir, S.Pd
 
Kekuasaan menurut Ibnu Khaldun merupakan jabatan kedudukan yang alami bagi manusia. Seba, manusia tidak mungkin dapat melangsungkan hidupnya dan melanggengkan eksistensinya, kecuali dalam sistem kemasyarakatan dan saling membantu di antara mereka dalam upaya memperoleh kebutuhan-kebutuhan pokok (Mukaddimah:328).

Dalam tradisi pondok modern, mewajibkan para santrinya untuk melalui fase pendidikan karakter melalui media organisasi santri. Khususnya bagi santri senior, diberikan amanah untuk menjadi pemimpin. Hal ini yang sangat berbeda dengan karakter pendidikan yang tidak diperoleh dari sekolah umum.

Kemajuan pondok pesantren adalah buah dari pemikiran atau ide-ide pimpinan pondok, guru-guru, pengurus, serta pihak-pihak eksternal yang terkait. Lihatlah bangunan-bangunan atau program yang selalu berkembang, demikian adalah gambaran dari ide-ide pengurus tersebut dalam standar lembaga pendidikan. Selanjutnya, hal tersebut menjadi sebuah bekal bagi para santri dalam keikutsertaan membangun sebuah bangsa. 

Mereka (santri) dituntut untuk berimajinasi menata sebuah negara, membuat peraturan perundang-undangan, memberikan sanksi dan bersikap bijak sebagai pemimpin. Tentunya dalam koridor kepemimpinan yang memiliki teladan. Kesempatan emas inilah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh santri untuk menjadi sosok pemimpin idola mereka.

Dalam hal ini Umar bin Khattab pernah berwasiat, “Belajarlah sebelum kalian menjadi pemimpin.” Ima al-Bukhari mengomentari atsar ini, “Juga setelah kalian menjadi pemimpin, sebab, para sahabat tetap belajar meskipun sudah berusia lanjut.” Ibnu Hajar juga memberikan komentar, bahwa Abu Bakar mengatakan demikian khawatir dipahami bahwa kepemimpinan itu menghalangi seseorang untuk terus belajar. (Ensiklopedi Sahabat:187).

Menjadi pemimpin, harus bersiap diri menjadi jiwa pembelajar. Belajar dari kepemimpinan orang-orang yang benar. Jujur, adil, sederhana, mencintai rakyatnya, dan rakyat pun akan mencintainya. Lihatlah Abu Bakar ash-Shiddiq, pemimpin yang rakyat pun segan terhadapnya. Umar pun pernah mengatakan, “Lebih baik aku didahului lalu leherku ditebas oleh seseorang daripada diharuskan memimpin suatu kaum yang di antara mereka terdapat Abu Bakar.”

Abu Bakar terkenal dengan sifat lemah lembut. Akan tetapi mempunyai ketegasan yang tajam. Tatkala menjadi khalifah, ia dengan tegas memberangkatkan pasukan perang muslimin yang dipimpin oleh seorang Usamah bin Zaid (berumur 18 tahun) untuk berperag melawan romawi. Tidak sedikit sahabt memprotes keputusan tersebut. Akan tetapi, karena ini adalah amanah Rasulullah Saw sebelum wafat, Abu Bakar tetap berkomitmen.

Akhirnya denga izin Allah Swt. pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid memperoleh kemenangan. Padahal, jika dilihat dari sisi sosial-politik di Madinah yang masih kacau-balau tersebut, keputusan tersebut sangatlah berisiko besar bagi keamanan masyarakat di Madinah.

Ali bin Abi Thalib memberika komentar terhadap kepemimpinan Abu Bakar, “Engkau telah membuat orang setelahmu lelah, selelah-lelahnya.” Ungkapan ini menurut Ahli Sejarah, Ustadz Budi Ashari, Lc bermakna bahwa kepemimpinan Abu Bakar sangatlah susah untuk ditiru khalifah setelahnya sehingga membuatnya lelah. Demikian dalam berorganisasi, generasi pemimpin setelahnya mempunyai beban berat, yakni mewujudkan kepemimpinan yang lebih baik dari sebelumnya. 

Berbeda dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab mempunyai karater yang khas. Dengan ketajaman ilmu yang dimiliki. Umar adalah sosok pemimpin yang memiliki perpaduan antara ilmu dan amal, dibarengi dengan ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan hukum. Tatkala akan diangkat menjadi seorang khalifah, Abdurrahman berkomentar atas perintah Abu Bakar, “Demi Allah, dia orang paling utama yang pernah kulihat, hanya saja sifatnya keras.”

Abu Bakar menanggapi, “Yang demikian itu karena dia melihatku terlalu lembut. Apabila urusan kekhalifahan ini diserahkan kepadanya, niscaya sifat keras itu akan luluh.” Dan benar saja, tatkla menjadi Khalifah ia berpidato di hadapan rakyatnya.

“Ketahuilah bahwa sifat keras itu telah melemah; memang masih ada, tetapi ia hanya ditujukan kepada orang-orag zalim dan orang-orang yang menyakiti kaum muslimin. Adapun mereka yang taat beragama dan bersahaja dalam kehidupan ini, sungguh aku lebih bersikap lemah lembut terhadap mereka daripada kelembutan yang terjalin di antara kalian.”

Dalam  berorganisasi, tidak semua anggota bagian dituntut untuk menjadi keras. Harus ada salah satu yang bersikap lembut. Hal ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Seperti dua karakter khusus yang dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar. Selanjutnya, banyak karakter pemimpin dalam Islam yang patut ditiru dan dipelajari kehidupannya. Karena pemimpin yang baik pasti dicintai oleh rakyatnya. 


خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalia membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah menentang mereka dengan pedang? Rasulullah Saw bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no.1855).
















Thursday, April 12, 2018

Fiqih Ijtihad

Oleh: Ma'zum Ibn Shabir


Sebut saja Unas dan Emon. Dua santri ini terkenal cerdas dan cerdik. Unas selalu berperan lugu dan konyol, sedangkan Emon dikenal sebagai santri yang cerdas, terkenal dengan ketajaman analisis dan argumen.

Sepulang dari pengajian bersama Ust Favorit, mereka merasa senang mendapatkan ilmu baru. Tentang metode ijtihad  dalam pengambilan hukum Islam. Kang Ustaz mengajarkan bahwa, "Barang siapa berijtihad, jika benar baginya dua pahala. Jika salah maka baginya satu pahala." Yakni pahala ijtihad.

Karena ingin mengamalkan ilmu tersebut. Esoknya, Unas berijtihad dengan merubah lafazh iftitah dalam shalat.

"Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Gadget semata. Gadget adalah nyawa hidupku."

Emon sedari tadi memperhatikan lafazh iftitah yang dibaca Unas tatkala Shalat Sunnah, dari jauh terdengar ada lafazh yang berbeda. Emon hanya terdiam melihat fenomena baru yang dilakukan temannya.

Usai shalat dua raka'at, Unas mengambil pengeras suara yang berada di samping Mihrab.  Ia langsung mengumandangkan azan   pertanda shalat zhuhur. Terdengar suaranya merdu mengumandangkan azan. Akan tetapi, Emon langsung terhentak kaget tatkala mendengar lafazh tambahan.

"Ashsholatu khoyrun Minan Naum/shalat lebih baik daripada tidur." (2X).


Seketika Emon langsung bangkit dari duduknya. Menghampiri Unas yang sedang menikmati lantunan azan yang ia kumandangkan.

*PLAAKKKK.......*
"Apa maksudmu menambah lafazh azan, yang seharusnya lafazh tersebut ada pada azan shubuh?" Tanya Emon dengan nada marah. Ia melanjutkan pertanyaan, "Kenapa juga kamu berani merubah lafazh iftitah dalam shalat."


Unas menjawab, "Mon, saya hanya mengamalkan apa kata pak Ustaz untuk berijtihad. Kenyataannya, manusia zaman ini lebih aktif menyambung komunikasi dengan Gadget/media sosial daripada komunikasi dengan Allah Swt. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat, jika tidak ada Gadget seakan-akan mereka mati. Seperti nyawa hidup.

Adapun mengenali lafazh azan, kenapa aku harus merubahnya. Kebanyakan manusia hidup, tapi sesungguhnya  pendengaran mereka tertutup, hatinya tertidur sehingga tidak lagi mampu mendengar panggilan Allah dan RasulNya. Meskipun hanya sekedar ibadah shalat."


Emon memahami apa yang dikatakan temannya, Unas. Iangsung ia memberikan solusi agar keluar dari Masjid untuk menghindari amukan warga sebab azan yang salah.

"Baik, sekarang lebih baik kita pergi dari sini. Kita konsultasikan kepada Kang Ustaz." Mereka pun pergi dengan tujuan mencari solusi.



*ini hanyalah kisah fiktif yang berisi kritik terhadap kehidupan sosial.

EmoFiqh Ijtihad

Sebut saja Unas dan Emon. Dua santri ini terkenal cerdas dan cerdik. Unas selalu berperan lugu dan konyol, sedangkan Emon dikenal sebagai santri yang cerdas, terkenal dengan ketajaman analisis dan argumen.

Sepulang dari pengajian bersama Ust Favorit, mereka merasa senang mendapatkan ilmu baru. Tentang metode ijtihad  dalam pengambilan hukum Islam. Kang Ustaz mengajarkan bahwa, "Barang siapa berijtihad, jika benar baginya dua pahala. Jika salah maka baginya satu pahala." Yakni pahala ijtihad.

Karena ingin mengamalkan ilmu tersebut. Esoknya, Unas berijtihad dengan merubah lafazh shalat iftitah dalam shalat.

"Sesungguhnya, shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Gadget semata. Gadget adalah nyawa hidupku."

Emon sedari tadi memperhatikan lafazh iftitah yang dibaca Unas tatkala Shalat Sunnah, dari jauh terdengar ada lafazh yang berbeda. Emon hanya terdiam melihat fenomena baru yang dilakukan temannya.

Usai shalat dua raka'at, Unas mengambil pengeras suara yang berada di samping Mihrab.  Ia langsung mengumandangkan azan   pertanda shalat zhuhur. Terdengar suaranya merdu mengumandangkan azan. Akan tetapi, Emon langsung terhentak kaget tatkala mendengar lafazh tambahan.

"Ashsholatu khoyrun Minan Naum/shalat lebih baik daripada tidur." (2X).


Seketika Emon langsung bangkit dari duduknya. Menghampiri Unas yang sedang menikmati lantunan azan yang ia kumandangkan.

*PLAAKKKK.......*
"Apa maksudmu menambah lafazh azan, yang seharusnya lafazh tersebut ada pada azan shubuh?" Tanya Emon dengan nada marah. Ia melanjutkan pertanyaan, "Kenapa juga kamu berani merubah lafazh iftitah dalam shalat."


Unas menjawab, "Mon, saya hanya mengamalkan apa kata pak Ustaz untuk berijtihad. Kenyataannya, manusia zaman ini lebih aktif menyambung komunikasi dengan Gadget/media sosial daripada komunikasi dengan Allah Swt. Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat, jika tidak ada Gadget seakan-akan mereka mati. Seperti nyawa hidup.

Adapun mengenali lafazh azan, kenapa aku harus merubahnya. Kebanyakan manusia hidup, tapi sesungguhnya  pendengaran mereka tertutup, hatinya tertidur dan sehingga tidak lagi mampu mendengar panggilan Allah dan RasulNya. Meskipun hanya sekedar ibadah shalat."


Emon memahami apa yang dikatakan temannya, Unas. Iangsung ia memberikan solusi agar keluar dari Masjid untuk menghindari amukan warga sebab azan yang salah.

"Baik, sekarang lebih baik kita pergi dari sini. Kita konsultasikan kepada Kang Ustaz."

*Ini hanyalah kisah fiktif tentang kritik sosial.

Monday, March 12, 2018

CERMIN



Oleh: Ma'zum Ibn Shabir

Anas, salah seorang hamba Allah terbangun dari tidur lelapnya. Ia bergegas mengambil air wudhu, untuk kemudian shalat tahajjud. Sepertiga malam terakhir, ia bermunajat kepada Allah Swt. Memohon akan kebahagiaan hidup di dunia.

Usai shalat. Ia menghadap ke arah cermin untuk mempersiapkan diri berdandan dengan penampilan baju ibadah yang paling baik. Namun,  ia terperanjat kaget tatkala melihat tiga bayangan dirinya dalam cermin. Ia mengira ini hanya mimpi. dilihatnya berkali-kali cermin tersebut, sambil memukul-mukul bagian kepala. Ternyata, ini bukan mimpi. Dan ketiga bayangan itu hanya ada dalam cermin.



Bayangan dengan wajah dan postur tubuh yang sama. Tidak ada perbedaan sedikitpun dari ketiganya. Hanya saja warna baju yang membedakan ketiganya. Ia sendiri berdiri di tengah cermin, satu bayangan dengan jubah berwarna putih berada di kanannya, dan bayangan dengan jubah hitam di sebelah kirinya.

"Tidak usah kaget! Perkenalkan, namaku nifaq. Akulah selama ini yang berperan sebagai sifat burukmu. Akulah yang akan membimbingmu menuju neraka, tempat istirahatmu." Ujar bayangan yang memakai jubah hitam di sebelah kirinya.

"Lihatlah Aku! Namaku Shalih. Akulah yang membimbingmu jalan kebaikan, hingga menuju surga yang kau impikan." Ujar bayangan putih yang mengaku yang bernama Shalih.

Anas hanya terdiam. Tidak mengerti apa yang harus ia perbuat. Tatkala ia hendak berbicara, seketika itu mulutnya terkunci, tak mampu berucap sepatah kata pun. Hanya kedua bayangan tersebut yang saling bercakap, beradu mulut saling mendebat.



Nifaq, "Anas, sudahi saja kebaikanmu. Kamu tidak lain hanya sebagai penipu. Pendusta agama dengan jubah putihmu. Kau gunakan mata untuk hal2 yang diharamkan, lisanmu untuk mencela, kakimu untuk menuju tempat maksiat. Tanganmu yang terlalu sering mengambil yang bukan hakmu, serta pikiranmu yang hanya mementingkan pribadi., jangan sok alim. Aku mengajakmu menuju kebahagiaan duniawi, nikmati saja dunia ini sesukamu."

Shaleh, "Jangan Anas! Teruslah berbuat baik. Mintalah bimbingan dari Allah agar memberimu petunjuk. Aku adalah kendaraanmu tatkala melewati Shirat menuju surga yang kau inginkan."

Nifaq, "Sudahlah Anas! Lepas saja simbol2 agama yang menempel di tubuhmu. Saya yakin, jika aibmu terlihat oleh semua manusia, pasti mereka akan merasakan jijik melihatmu. Hanya saja kamu sembunyi dibalik simbol agama. Mereka pasti menilaimu sebagai manusia munafik. Dan kamu sadar, bahwa kemunafikanmu akan mengantarkanmu ke dasar jurang neraka. Untuk itu, nikmati saja dunia ini karena neraka sudah menantimu, dan surga belum tentu menerimamu."

Shaleh, "Istighfar Anas! Dosa2mu disebabkan karena kelalaianmu dalam ibadah. Buang segera sifat munafikmu. Rahmat Allah masih terbuka lebar bagi hamba-Nya yang ingin kembali."

Anas hanya menangis menyesali dosa-dosanya.  Sedangkan mulutnya masih membisu. Telinganya hanya mampu mendengar percakapan dua bayangan di dalam cermin. Hingga akhirnya, ia mengepalkan tangan dengan sekuat tenaga untuk kemudian memukulkannya ke arah cermin tersebut.

*AHHHHHHHHHHHH......Bruaaaaakkkkkkkkk......*


Cermin sebelah kiri pun pecah. Bayangan hitam yang bernama nifaq seketika menghilang. Namun bisikannya tetap terdengar di telinganya, "Bersiaplah Anas! Karena setiap dosa-dosamu akan dihisab di hadapan Allah Swt. Dan aku menunggumu di lembah jahannam." Ucap nifaq.

Sementara, bagian kanan cermin masih terlihat bayangan putih dirinya. Shaleh memberikan pesan terakhirnya sebelum menghilang, "Jagalah amal shalehmu, sebagaimana kamu menjaga aibmu agar tidak terlihat oleh orang lain. Karena akulah yang membimbingmu menuju surga-Nya. Kembalilah menuju jalan Rabb-Mu dengan jiwa yang tenang, nafsul muthmainnah."

Seketika shaleh menghilang. Ruangan kamar hanya tersisa dirinya dan cermin pecah. Azan shubuh berkumandang, ia kembali bergegas memenuhi panggilan rabb-Nya untuk memulai hari yang baru."

Thursday, March 8, 2018

Basyir dan Buah Apel

Basyir dan Buah Apel

*dikutip dari ceramah Ust.Adi Hidayat L.c, M.A

Bernama Basyir. Seorang Shaleh pembelajar, suatu ketika pulang dari Ta'lim berjalan di tepian sungai. Sambil berjalan ia menemukan Apel yang hanyut di sungai. Sedangkan ia sendiri dalam keadaan lapar.



Setelah memakan buah tersebut, Allah menakdirkan hilang sebagian ingatannya (tentang ilmu yang didapat dari kitabnya). Tatkala mengingat ilmu, ia merasa heran karena sebagian ingatannya hilang. Lalu sekejap mengingat kaidah, bahwa ilmu adalah pemberian dari Allah.

Dan Basyir menduga, bahwa ia lupa karena merasa bersalah telah memakan buah Apel yang tidak diketahui pemiliknya. Untuk itu, ia berusaha agar bertemu dengan pemilik buah Apel tersebut dengan tujuan agar bisa meminta maaf.  Setelah mengikuti jalan sungai, ia bertemu dengan seorang pemilik kebun Apel tersebut.

Seketika Basyir mengucapkan maaf, "Mohon maaf, saya telah memakan Apel anda tanpa seizin anda (sebagai pemiliknya)." Diketahui bahwa pemilik kebun tersebut adalah orang shaleh yang mengrtahui hukum Islam.

Ia menjawab, "(mohon maaf) tidak begitu mudah memaafkan orang yang bersalah. Saya akan memberikan syarat. Dan syaratnya adalah anda harus menikahi puteri saya."

Sontak hal ini membuatnya kaget. Sesuatu yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Akan tetapi, karena Basyir ingin mendapatkan ridho Allah, maka ia bersedia untuk menikahi puteri dari pemilik kebun Apel tersebut.

Pemilik kebun tersebut memberikan pertimbangan, "Silahkan dipertimbangkan kembali, karena puteri saya buta, bisu dan tuli." Tegasnya.



Basyir tetap menerima persyaratan tersebut. Dan pada malam itu, ia langsung dinikahkan dengan puteri pemilik kebun apel.

Basyir dipersilahkan untum memasuki kamar istrinya. Sebelum masuk, ia mengucapkan salam. Akan tetapi, setelah mendengar jawaban salam dari dalam kamar basyir berbalik arah menuju mertua. Karena ia mengetahui bahwa istrinya bisu dan tidak mungkin dapat menjawab salam.

Akan tetapi, sang mertua tetap menyuruhnya untun masuk kamar tersebut. Akhirnya, setelah memasuki kamar istrinya, ia terperanjat kaget. Melihat wanita yang cantik sempurna nan shalihah. Setelah masuk kamar tersebut, Basyir semakin kaget tatkala istrinya bisa melihat, berbicara dan mendengar. Berbeda dari apa yang diceritakan sebelumnya.

Ia adalah perempuan paling istimewa di daerah tersebut. Diperebutkan oleh banyak lelaki, tetapi ayahnya menginginkan lelaki shaleh yang menikahinya. Kemudian istrinya menjawab, "Saya memang buta, karena memang dididik oleh Ayah agar tidak melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. Saya memang tuli, diajarkan oleh Allah agar jangan mendengar sesuatu yg diharamkan. Dan saya bisu, karena dijarkan agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak diridhoi oleh Allah dan Rasul-Nya." Jelasnya.


Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang Ulama Besar yang bernama Nu'man bin Basyir yang lebih dikenal sebagai Imam Abu Hanifah.


Wednesday, January 10, 2018

Kisah Keajaiban Shalat



Oleh: Ma’zumi H.S

            Wahab bin Munabbih r.a. berkata, “Meminta kepada Allah melalui shalat ketika menghadapi suatu keperluan adalah dianjurkan. Orang-orang terdahulu juga, apabila ditimpa suatu bencana, mereka segera melakukan shalat. Dan apabila selamat dari bencana, mereka pun segera melakukan shalat.”
            Kemudian dia bercerita, di Kuffah ada seorang kuli barang yang terkenal dan sangat dipercaya oleh orang karena kejujurannya. Banyak para pedagang yang menitipkan barang atau uang kepadanya. Suatu hari ketika dalam perjalanan, ia bertemu dengan seorang lelaki. Lelaki itu bertanya, “Engkau mau pergi ke mana?”

            Kuli menjawab, “Aku akan pergi ke kota Fulan.”
            Lelaki itu berkata, “Aku pun akan pergi ke sana. Aku tidak sanggup berjalan kaki bersamamu. Bagaimana kalau aku mengendarai keledaimu dengan bayaran satu dinar?”

            Si kuli tersebut menyetujuinya. Lalu lelaki itu mengendarai keledai. Ketika tiba di suatu persimpangan jalan, lelaki itu bertanya, “Jalan mana yang akan engkau lalui?”
            Si kuli menjawab, “Jalan umum ini.”
            Lelaki tersebut kemudian menyahut, “Jalan yang satunya ini lebih dekat dan lebih memudahkan bagi keledai ini, karena banyak sekali rumput di sana.”
            Si kuli berkata, “Aku belum pernah melewatinya.”
            Lelaki itu berkata lagi, “Aku sering melewatinya.”
            “Baiklah, kita coba jalan yang ini,” Jawab si kuli menyetuji.

            Maka mereka pun melewati jalan itu. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di sebuah hutan lebat yang menyeramkan dan banyak berserakan tengkorak manusia. Tiba-tiba lelaki itu turun dari keledai sambil mengeluarkan pedang dari balik punggungnya dan berniat akan membunuh si Kuli. “Jangan lakukan itu!” Teriak si Kuli, “Ambillah keledai dan barang-barang ini kalau itu keinginanmu, tapi jangan bunuh aku!” Namun lelaki itu tidak mengindahkannya bahkan bersumpah akan membunuh si Kuli terlebih dahulu sebelum mengambil semua barangnya.”

            Si Kuli terus memohon sambil memelas. Namun, lelaki zhalim itu sama sekali tidak menghiraukannya. Akhirnya si Kuli pasrah dan berkata, “Baiklah, kalau itu keinginanmu, izinkan aku melakukan shalat dua raka’at untuk yang terakhir kalinya.”

            Lelaki itu berkata sambil tertawa mengejek, “Cepat lakukan! Mayat-mayat ini pun mengajukan permohonan yang sama, namun shalat-shalat mereka sama sekali tidak dapat menolong sedikitpun.” Rupanya lelaki ini adalah seorang yang pengalaman membunuh.

            Si Kuli segera mamulai shalat. Namun, setelah selesai membaca al-Fatihah, tidak ada satu surat pun yang diingatnya. Sementara lelaki zhalim it uterus mendesak terus mendesak agar si Kuli mempercepat shalatnya, “Cepat selesaikan shalatmu!” Tiba-tiba, tanpa disengaja terucap oleh lidah si Kuli sebuah ayat yang berbunyi:
            اَمَّنْ يُجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْءَ
“Atau siapakah yang menerima (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesulitannya.” (Qs.an-Naml [27]: 62).

Dia (Kuli) membaca ayat itu sambil menangis. Tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda memakai topi besi yang gemerlapan. Dia menikam lelaki zhalim itu hingga tewas. Dari tempat jatuhnya si zhalim itu, keluarlah nyala api. Si Kuli langsung bersujud sebagai tanda syukur kehadirat Allah Swt. Lalu ia berlari ke arah penunggang kuda tadi dan bertanya, “Ceritakanlah padaku! Siapakah engkau dan bagaimana engkau bisa datang kemari?”

Penunggang kuda itu menjawab, “Aku adalah penjaga ayat yang engkau baca tadi. Sekarang engkau selamat. Silahkan engkau pergi ke mana saja engkau sukat.” Setelah berkata demikian, ia pun menghilang.

Demikian indahnya pertolongan Allah Swt. melalui shalat. Begitu membekas bahkan seseorang rela mati setelah melaksanakan shalat. Hal ini juga pernah dilakukan oleh Khubaib tatkala hendak dibunuh sebagai tawanan, ia yang pertama kali melaksanakan shalat dua raka’at sebelum dibunuh oleh musuh. Tatkala jasadnya akan dipertontonkan, Allah menyelamatkan jasadnya dengan menenggelamkannya di dalam bumi. Hingga tidak tersisa sedikitpun bagian dari tubuhnya.

Pertanyaannya adalah, sudahkah benar shalat kita? Sudahkah shalat berpengaruh dalam kehidupan kita? Jika kesulitan hidup masih kita dapati, barangkali ada kesalahan dalam shalat kita, meskipun tergolong dari orang-orang yang rajin menjalankan shalat. Bisa pula ada kesalahan dalam berwudhu, atau tidak sadar diri bahwa dalam shalat kita sedang berhadapan dengan Allah Swt.

Ibnu Shirin rah.a. berkata, “Seandainya aku diberi kesempatan untuk memilih antara surge dan dua raka’at shalat, maka aku akan memilih shalat. Karena surge itu untuk kesenanganku, sedangkan shalat adalah untuk keridhaan Rabbku.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Alangkah pantas dicemburui seorang muslim yang ringan hidupnya, keluarga dan hartanya tidak menyibukkannya, banyak peluang untuk shalat, lalu menerima rezeki yang ada, bersabar atas segala hal, beribadah kepada Allah dengan sebaik-baiknya, hidup tanpa disanjung, kematiannya dipermudah, sedikit harta warisannya, dan tidak banyak orang yang menangisinya (al-Jami’ush Shaghir). Beliau Saw juga bersabda, “Perbanyaklah shalat-shalat (sunnah) di rumahmu, agar rumahmu semakinn dipenuhi kebaikan.”

Sumber: Fadhailul A’mal, Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandawi rah.a hal 95-96.

Tugas Mapel Al-Qur'an dan Hadits Kelas XI A dan B MA Misbahunnur

Clue: *Untuk Dapat Menjawab Pertanyaan Materi Al-Qur'an dan Hadits maka ada syarat dan ketentuan yang harus dikerjakan. *Syaratanya a...