Saturday, August 20, 2016

Jurus Menulis “Jitu”


Oleh A Fuadi, Novelis Negeri 5 Menara

Tim redaksi Majalah Sabrina dan Pimpinan Pondok Drs. KH. Sulaiman Effendy M.Pd.I sedang wawancara dengan Novelis Negeri 5 Menara, A Fuadi.

            Kenapa Anda memilih Sastra?

            Entah saya memilih atau dipilih, karena Di pondok dahulu selalu diajarkan “Khoyrunnas Anfa’uhum Linnas”. Saya berpikir bagaimana menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. berbeda dengan orang yang mempunyai banyak uang, punya pesantren, dan mengajar. Kebetulan saya tidak mempunyai semua itu. Lantas saya berpikir tentang apa yang bisa bermanfaat secara luas, saya harus hadir disana. Yaitu sastra, Dan ahirnya saya berpikir bermanfaat bagi orang lain dengan menulis. Kebetulan di Pondok dahulu saya sangat suka dengan menulis.
           
            Setelah itu lalu saya berpikir, mau nulis apa dan isinya apa? Saya mencari sesuatu yang paling berbekas pada diri saya. Yang paling berbekas adalah ingatan ketika menjadi santri, (menulis tentang kehidupan santri) sehingga terbitlah buku Negeri 5 Menara itu. Secara sastra mungkin buku itu perlu diperdebatkan, akan tetapi entah karena itu menulis dengan sepenuh hati. Ceritanya mengandung berkah pondok, ahirnya menjadi tulisan yang Best Seller. Sampai di Gramdeia disebut sebagai buku terlaris sepanjang masa. begitu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, buku itu menyebar lagi, sampai dipakai di sekolah di Amerika, Australi, dan Singapur.

            Jadi Proses kreatif Antum menulis sejak kapan?

            Saya berlatih menuils itu secara tidak sadar sejak Tsanawiyah sebelum ke Gontor. Ibu saya seorang Guru SD yang suka menulis tulisan Diary. Saya baru tahu bahwa kisah hidup itu bisa ditulis di dalam buku. Saya mulai juga mempunyai buku harian. Dan itu berlanjut ketika di Gontor kita diwajibkan membawa bukui harian. Setiap ada acara harus dibawa. Lama-lama secara tidak sadar, latihan seperti itu membuat saya kuat untuk mendeskripsikan sesuatu dengan menulis.

            Tapi saya tidak mempunyai tema mau menulis apa waktu itu. Karena ada proses Internal saya mengatakan, “saya bermanfaatnya seperti apa yah?”. Waktu itu saya sudah pulang dari Amerika, Inggris, hidup sudah nyaman dengan pekerjaan. Lantas dengan itu saya berpikir bahwa kebermanfaatan hidup adalah dengan menulis. Mulaiah saya latihan menulis Novel 5 Menara, dan itu terbantu juga dengan buku harian yang dulu saya tulis ketika masih di Gontor.

            Siapakah orang yang berpengaruh Besar dalam Hidup Kang Fuad?

            Tentunya orang tua, terutama ibu yang “menjerumuskan” (memaksa) saya masuk Pesantren. Kalau tidak disuruh Ibu mungkin tidak ada kehidupan saya seperti sekarang ini. kemudian yang kedua adalah guru-guru di Pesantren yang Inspiratif sekali. Wali kelas saya, Para Kiyai, dan teman-teman. Bagi saya semua itu seperti aliran listrik yang saling menyentuh.

            Bagaimana Tips menulis agar pembaca itu tetap terikat dengan tulisan kita?

            Mengikat pembaca menurut saya adalah mengikat hati. Seperti tulisan laporan ilmiah dan riset, tulisan seperti itu hanya mengikat kepala, tidak mengikat hati. Cobalah menulis dengan mengikat hati, kalau bisa mengikat keduanya (hati dan kepala). Bagaimana mengikat hati? Yaa harus menulis dengan hati, supaya yang tersentuh adalah hati. Tulisan ayat-ayat suci itu menyentuh semuanya. Kita mungkin tidak bisa menulis seperi ayat-ayat suci, tetapi memakai model seperti itulah.

            Tujuan antum dari menulis seperti apa?

            Yaa itu tadi, bagaimana mengamalkan apa yang saya pelajari di Pesantren. Mudah-mudahan tulisan ada manfaatnya. Untuk mengenai tips menulis secara khusus mungkin saya mempunyai beberapa langkah. Pertama adalah bertanya kepada diri sendiri “Why”. Kenapa saya menulis. Niat menulisnya untuk apa? Yang kedua “What”, apayang ditulis? Maka jawabannya adalah Tulislah apa yang kita suka dan membekas di hati.

Yang ketiga “How”, bagaimana menuliskannya? Menuliskannya dengan metode-metode menulis yang baik. Dan bagian dari metode itu adalah riset, tidak hanya dari kepala dan hati kita. Karena ingatan kita terbatas. lakukan wawancara dan observasi. Saya ketika menulis Novel Negeri 5 Menara, wawancara lagi dengan teman-teman di Gontor, membaca lagi buku harian.

 Yang terahir “When”, kapan nulisnya? Nulisnya harus dicicil pelan-pelan setiap hari. karena sedikit demi sedikti lama-lama menjadi bukit. itu adalah proses yang bisa kita coba dalam latihan menulis.

            Apa harapan antum ke depan khususnya dalam dunia tulis menulis, harapan pribadi dan secara umum?

            Harapan saya adalah secara pribadi, dengan tulisan ini adalah jalan saya untuk kebermanfaatan orang lain. dan saya harap, orang muslim atau santri itu tidak hanya fokus pada Iqra’ tapi juga harus Uktub, kadang-kadang itu tidak balance (tidak imbang). Iqra’ memang bagus, tapi  Kadang-kadang kita lupa Uktubnya.

Menulis itukan memproduksi, yang diproduksi itu bukan makanan fisik karena masuk ke dalam fikiran. Kalau kita menulis dan tulisan kita dibaca orang, maka kita akan menguasai pikiran orang. Kalau ingin berdakwah melalui pikiran, salah satunya adalah menulis. Kalau ngomong akan dilupakan orang, kalau menulis maka kita akan berumur panjang. Contohnya kitab Bidayatul Mujtahid, itu kan ditulis oleh Ibnu Rusyd 800 tahun yang lalu,di gontor masih dipakai. Itulah tulisan, yang secara fisik kita melihat masih ada sedangkan orangnya sudah tiada.

            Saya secara pribadi ingin memotivasi para santri di dunia Pesantren untuk menulis, karena umur kita terbatas, sedangkan umur tulisan tidak ada batasnya.


Wednesday, June 22, 2016

TIPS MENJADI PENULIS HEBAT ALA KANG ABIK





Siapa yang tidak tau kang Abik? (sapaan akrab Ustad HAbiburrahman L.c), beliau adalah penulis yang mampu memadukan sebuah karya dengan dakwah dan cinta. Cinta terhadap Allah SWT, Rasulullah Saw, umat Islam, serta yang tidak kalah menarik adalah beliau mampu menampilkan sosok muslim dalam menyikapi pluralitas dan pluralisme dalam beragama. Salah-satu karya fenomenal yang ia kontribusikan untuk kita adalah Novel yang berjudul Ayat-ayat cinta. Novel ini mampu menyedot perhatian seluruh elemen masyarakat Indonesia yang haus akan hiburan-hiburan yang Islami.

Tentu untuk menjadi penulis hebat seperti beliau tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan, ada tips-tips dan rahasia khusus sehingga menjadikan beliau sebagai penulis hebat. Setidaknya teradapat beberapa manfaat dan tips yang kami (tim redaksi Sabrina) dapatkan dalam seminar beliau yang diadakan di Pondok Pesantren Modern La-Tansa, Cipanas pada 28-03-2016 sebagai berikut :
1.      Menulis untuk berbagi kebaikan

Yang perlu diperhatikan sebelum menulis adalah Niat yang Ikhlas karena Allah SWT dengan tujuan agar bisa berbagi kebaikan terhadap sesama, tentunya sebagai saraa dakwah agar tertanam pada diri kita rasa cinta terhadap Allah SWT dan RAsulullah SAW.
2.      Menulis menjadikan nama kita Abadi

Menulis bisa menjadikan nama kita abadi meskipun kita telah hilang ditelan bumi. Lihatlah seperti orang-orang yang penulis yang hingga sekarang namanya kita kena dan seakan mereka hidup di lingkungan kita pada saat ini, seperti Imam Bukhari dan Muslim yang menulis Hadits, Buya Hamka dengan Tafsir dan karya tulis lainnya, Chairil anwar dengan sastranya dan masih banyak lagi penulis yang namanya abadi hingga saat ini.

Sebenarnya madzhab dalam Islam bukan hanya 4 Mazhab, hanya saja mazhab yang lain tidak menulis sehingga selain dari 4 mazhab tersebut tidak dikenal karena tidak melestarikan budaya menulis, begitu juga dengan kita yang saat ini hidup, tidak akan dikenang jika tidak menulis dan tidak ada yang menuliskan karya kita. Berkaitan dengan cara menulis sebagai berikut :
1.      Harus mempunyai cerita

Ketika seseorang hendak memulai menulis maka ia harus mempunyai cerita yang berurutan dari awal hingga ahir. Minimal melatih menulis dengan cerita kehidupan pribadi.



2.      Mendapatkan ide

Ide menulis bisa didapatkan dari apa yang kita lihat sehari-hari, seperti bacaan, mimpi, cerita orang lain, dan melibatkan pertanyaan dalam penulisan (5 W + 1 H). setelah itu harus disusun sehingga terbentuk sebagai cerita.

3.      Jadilah penulis, bukan editor atau kritikus

Ketika sedang menulis terkadang kita ragu-ragu dengan susunan kata atau kalimat yang sedang ditulis, sehingga ditengah penulisan kita sering mengedit lalu menghapus tulisan tersebtu. jika mengalami hal ini maka selesaikanlah dahulu proses menulis, Setelah itu baru memperbaiki tulisan, karena tugas anda adalah penulis bukan editor. Jadi jangan terburu-buru mengedit teks yang belum rampung anda tulis.
4.      Memperbanyak membaca pada bidang ilmu yang akan ditulis.

Menulislah sesuai dengan bidang ilmu yang kita sukai dan  perbanyak membaca buku yang berkaitan dengan hal itu.

5.      Mematangkan Ide

Seringkali ditengah menulis sesuatu terlintas ide-ide baru yang akan ditulis, jika mengalami hal ini maka hendaklah merampungkan dahulu ide awal.  Jika ide baru tersebut ada kaitannya dengan ide awal maka bolehlah mengaitkannya sehingga menjadi karya yang bernilai tambah. Akan tetapi jika ide tersebut berlawanan maka ditampung dahulu dalam satu folder tema ide yang akan diselesaikan pada waktu yang lain. Karena karya tulis terbaik adalah karya yang berhasil ditulis (dirampungkan).
6.      Memperbanyak kosa-kata

7.      Memasukkan nilai-nilai Alquran dan Hadis ke dalam tulisan


Redaksi majalah Sabrina : Ma’zumi

Saturday, June 18, 2016

SEBUNGKUS NASI DARI SAENI




Ma’zumi founder RUFAQA'

            Ketika ditanyakan. Negara mana yang penduduk muslimnya terbesar di dunia? jawabnya Indonesia. Negara yang terdiri dari beribu pulau serta tidak luput dari lahirnya banyak budaya di negeri ini. Umat muslim menjadi kaum mayoritas, sudah sepantasnya menjadi teladan bagi minoritas. Tentu mayoritas yang harus berperan penting memberikan pandangan umum tentang arti sebuah toleransi.

            Toleransi itu adalah bernama toleransi beragama, toleransi atas nama hukum negara, serta toleransi yang berdasarkan pada Hak Asasi Manusia. Toleransi beragama tentu mengedepankan teokrasi yang berdasar pada absolutisme hukum Tuhan. Dalam agama kita mengenal kebenaran aksioma yang berasal dari tuhan. Tidak perlu dibantah, apalagi diteliti. Karena tugas kita adalah taat kepada tuhan.

            Hal ini sudah lazim dalam kehidupan beragama sebagai manifestasi dari masyarakat yang pluralis. Alquran juga mengatakan demikian. Di awal surat Albaqarah sudah diterangkan ciri-ciri orang beriman (ayat 2-5), orang-orang kafir (ayat 6-7) selanjutnya membahas ciri-ciri orang munafik pada tuju belas ayat berikutnya. Artinnya dalam hidup ini sudah tentu kita bertemu dengan tiga karakter manusia tersebut.

            Ciri dari Orang-orang yang beriman sangat mudah kita kenali secara dzahirnya. Orang-orang kafirpun demikian. Adapun orang-orang munafik ini perlu penelitian lebih lanjut, karena memang di dalam Alquran dijelaskan panjang lebar mengenai hal itu. Tidak lain untuk mengetahui secara pasti siapa yang benar-benar munafik dan tidak sembarang menghukumi orang dengan sebutan itu.

            Bagaimana dengan toleransi atas nama hukum negara dan hak asasi manusia? yaa, namanya juga hukum negara yang bisa berubah-ubah setiap waktu dengan kegendak nafsu penegak hukum. Kalaupun hukum negera itu bertentangan dengan toleransi beragama tadi, tentu yang menjadi acuan adalah hukum agama yang memiliki absolutisme aksioma. Ini adalah logika berpikir yang standar.

            Adapun hak asasi manusia sesungguhnya sudah diatur oleh peraturan dalam beragama. Dalam hal ini kita mengambil hak mayoritas yaitu umat Islam. Di dalam Alquran sudah dijelaskan bahwa kita terdiri-dari berbagai suku dan berbangsa-bangsa (Qs. Al-Hujurat/49: 13) lalu Allah menegaskan bahwa yang terbaik di antara mereka adalah yang paling bertaqwa.

            Terkait kasus Warteg Buk Saeni. Kita pasti mengenalnya sebagai kasus penyelewengan terhadap toleransi beragama. Karena memang benar-benar melanggar hukum tuhan. Ini adalah analisis berdasarkan toleransi beragama tersebut. adapun dalam perpesktif hak asasi manusia, memang dibenarkan siapapun berjualan, kapanpun itu. Lhah ini permasalahannya kita adalah hamba tuhan atau hamba nafsu?

            Jika kita menghamba kepada Tuhan, ya sudah serahkan saja secara teokrasi. Karena manusia tidak punya legalitas untuk melawan. Untuk kasus ini pantas jika MUI dan Perda setempat menghimbau untuk diadakannya razia. Adapun ungkapan Gubernur DKI yang mengatakan, “saya (dulu) sekolah Islam ya. Orang yang berpuasa kalau bersama orang yang sedang makan dan yang puasa bisa menahan diri, ya pahalanya dobel”.  

            Saya kira ini adalah ungkapan ngawur yang membela atas dasar Hak Asasi Manusia. orang yang berpuasa kalau bersama orang yang sedang makan dan yang puasa bisa menahan diri, pahalanya dobel. Betul memang, tapi yang membuka warung di siang hari dosanya lebih dobel, bahkan berlipat ganda. Apalagi orang yang membelanya.

            Perlu kiranya hak asasi manusia ini ada batasannya, agar tidak terjadi konflik berkepanjangan. Bukan sekedar membela hak asas manusia kemudian mengesampingkan hak Tuhan. Jika manusia tetap ngotot memaksa, justru tuhan lebih Maha Berkehendak. Seharusnya tugas pemimpin adalah menutup celah agar manusia tidak berbuat dosa, karena meskipun tidak diberi ruang berbuat dosa dengan sendirinya ia akan mencari peluang berbuat dosa.

            Kabar baiknya adalah berita ini direspon positif oleh Bapak Presiden dan Mendagri Tjahjo Kumolo dengan memberikan bantuan uang tunai dengan total senilai Rp.15 juta. Belum lagi sumbangan dari relawan (netizen). Membuka warung di siang hari bagi buk Saeni cukup beralasan, yaitu untuk memenuhi kondisi ekonomi keluarga. akan tetapi jika pemerintah salah dalam menangani kasus tersebut, maka akan tumbuh Saeni-Saeni yang selanjutnya.

            Sebungkus nasi dari buk Saeni itu harganya sangat beragam. Bagi masyarakat awam yang menyempatkan berbuka di siang bolong, harganya bisa dengan harga normal. Akan tetapi bagi orang yang sedang ikhlas menjalankan ibadah puasa, nasi  itu tidak berharga dibanding dengan pahala yang diberikan Tuhan. Walaupun sebungkus nasi tersebut bernilai jual tinggi bagi Bapak toleransi, yakni Rp. 15 juta.

            Kita hormati keputusan bersama yang masing-masing mempunyai pendapat yang berbeda. Atas dasar demokrasi, diperlukan kata sepakat untuk hasil yang mufakat. Baik MUI, pemerintah, Presiden, Mendagri, Bapak Bupati dan masyarakat awam. Yang paling dirugikan dari masalah ini adalah masyarakat awam. Karena mereka bingung harus mengikuti siapa? 

            Dan masyarakat awam ini adalah kaum mayoritas. Jadi tidak sepantasnya para petinggi negara kita meributkan hal-hal tersebut dengan perbedaan pendapat yang saling bertentangan. Cukup untuk tidak membuat hal-hal yang berbau kontroversial. jalani yang sudah menjadi adat baik di masyarakat. Yakni menghormati orang yang berpuasa sebagai interpretasi dari menghormati hukum tuhan dan hak asasi manusia.
            Berdasarkan kesimpulan yang diambil dari Surat Al-Hujurat di atas tersebut. Maka tolok ukur toleransi adalah mempertimbangkan toleransi beragama, dengan “takwa” sebagai tolok ukur dari kebenaran agama dan status sosial. Hal ini agar kita terhindar dari sifat orang-orang munafik yang mendekati dari perilaku dan kebiasaan jahiliah.

            Negeri ini sudah terlalu serius mengabaikan hukum tuhan. Baik dari skala individual maupun secara kolektif dalam ranah universal. Contohnya bisa kita lihat dari kasus pencabulan anak di bawah umur, pemerkosaan, pemotongan alat kelamin, penistaan agama, pembunuhan. Bahkan yang paling sadis adalah pembunuhan dalam sektor ekonomi dan keuangan bangsa yang dapat menyiksa kehidupan yang berkelanjutan. Jangan ditambah lagi dengan hal-hal yang kontroversial.

Monday, June 13, 2016

MEMIMPIN DUNIA DENGAN MENULIS




            Dalam kesuksesan dakwah Islam kita tidak bisa dipisahkan oleh peran tulis menulis sebagai sarana dakwah yang efektif. Kita bisa membayangkan apabila Al-qur’an dan Hadits yang ada sekarang  tidak ditulis dan dibukukan oleh para sahabat karena pada masa itu kaum muslimin sangat kuat dalam dalam mengandalkan hafalan sebagai hujjahnya. Serta peran para sahabat dan tabi’in yang membukukan Al-qur’an dan mengkodifikasikan Hadits sebagai manifestasi pewarisan ilmu kepada generasi selanjutnya merupakan sebuah manfaat yang begitu besar.

            Tidak luput dari memori sejarah kemunduran Islam yang ditandai dengan hilangnya ilmu (kitab-kitab islam) yang ditenggelamkan oleh tentara mongol. sehingga sumber pengetahuan islam sebagai warisan terbesar hilang tanpa arti. Apakah hal ini senada dengan ulah pemerintah yang  memblokir beberapa situs islam yang selama ini memudahkan dakwah?

            Tulisan memiliki peranan penting untuk mempengaruhi siapapun yang membacanya. Setiap tulisan yang dibaca seakan memiliki nyawa yang mampu mensugesti pikiran siapapun pembacanya. Kita bisa melihat beberapa ibrah yang yang dapat diambil dari tulisan yang mampu merubah seseorang.

            Umar bin Khattab yang sangat keras permusuhannya terhadap Islam hatinya luluh setelah membaca bagian dari surat Taha yang membuatnya menjadi orang yang terdepan dalam membela Islam. Serta surat-surat yang dibuat Rasulullah yang mampu melunakkan hati Raja-raja arab untuk memeluk islam. Jadi peran dan manfaat menulis sangat agung di mata Islam dalam rangka meninggikan kalimat Allah diatas muka bumi.
            Ada beberapa alasan yang mendasari umat islam untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai sarana dakwah dan memperdalam wawasan agama. Pertama, tuntutan Allah dalam kalam-Nya yang berbunyi “yang mengajarkan (manusia) dengan pena, mengajarkan manusia apa yang belum diketahuninya”.(Qs.Al-‘Alaq : 03-04)
            Kedua, sabda Rasululllah s.a.w barang siapa diantara kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tanganmu, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya karena itu adalah serendah-rendahnya iman”.

            Mencegah sesuatu yang mungkar dengan tangan adalah tugas seorang pemimpin islam dan siapapun yang berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Mencegah dengan lisan ialah bagi siapapun yang tidak mampu bertindak dengan tangan, dan mecegah dengan hati ialah bagi orang yang tidak mempunyai kekuatan untuk melaksanakan keduanya. Jadi Islam memberikan ruang dakwah kepada seluruh tingkat masyarakat karena kita dianjurkan untuk berdakwah meskipun hanya satu ayat.

            Apabila seorang pemimpin Islam tidak mampu merubah dunia dengan langkah kekuasaannya maka umat muslim butuh banyak generasi penulis sebagai langkah konkrit menuju ruang dakwah yang lebih konfrehensif.

            Saat ini umat Islam sangat dilanda oleh gejala Islamopobia yang membuat kita takut untuk melangkah berdakwah lebih dari biasanya. Karena pada realitanya islam sedang disorot oleh mata dunia yang menyerang dari segala penjuru untuk menghancurkan pundi-pundi moral keislaman.

            Ketiga, Republik Indonesia yang mengusung tema Negara Demokrasi yang memberikan hak warga negaranya untuk bebas menyampaikan pendapat dimuka umum hendaknya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memberikan warna (pendapat) baik dengan lisan maupun tulisan. Tapi sayang seribu sayang, sang pemegang Demokrasi malah mengkhianati esensi demokrasi yang dibangun sejak dulu.

            Keempat, menulis merupakan sebuah manifestasi perbedaan karakter antara seseorang yang mempunyai integritas terhadap kemajuan dunia pendidikan, serta perbedaan bahwa orang yang menulis lebih memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas. Hal ini dibuktikan dengan kebiasaan para Ulama yang menyusun kitab-kitab dan mengarang beberapa buku.

            Kelima, menulis merupakan cara seseorang menjadikan dirinya sebagai pelaku sejarah untuk diri dan lingkungannya. Sebagaimana seorang penyair ternama tanah air mengatakan “Aku ingin hidup seribu tahun lagi” dan memang benar, seorang penulis akan terus hidup meskipun jasadnya tidak lagi berada di dunia. Ruhnya akan selalu hadir menemani pembaca karyanya. Dan nama penulis akan terus terkenang menghiasi sejarah dan panggung sinema kehidupan.

            Kita  bisa melihat banyak contoh hanya denga tulisan yang menempel siatas kertas putih yang tak bernyawa tersebut mampu mempengaruhi dunia. Contohnya  pada Pilpres tahun lalu kita banyak peranan tulisan sangat mempengaruhi mindset dan cara pandang masyarakat indonesia terhadap salah satu tokoh yang kelak akan memimpin bangsa dengan kekuasaannya. Ahirnya timbbullah fitnah yang membuat masyarakat menjadi bingung karena tidak adanya jalan tengah yang sanggup menghakimi siapa yang benara dan siapa yang dalah dari kedua media tersebut.

            Sudah jelaslah manfaat yang besar dari kegiatan tulis menulis, menulis juga dapat menjadikan orang biasa menjadi orang terkaya di dunia. J.K Rolling penulis buku Harry Potter yang memulai tulisannya dengan imajinasi yang ia tuliskan diatas selembar tissue yang menjadikannya orang terjaya di inggris.

            Inilah motivasi yang seharusnya dibangun oleh bangsa dan agama islam dengan menanamkan rasa cinta terhadap sebuah karya tulis. Jika anda tidak mampu berpentas menjadi pemimpin bangsa, atau tidak mempunyai jabatan apapun untuk berpengaruh dan menebar manfaat kepada orang lain. akan tetapi jika anda memberikan sebuah karya (tulis) kepada dunia, niscaya anda mampu merubah dunia dengan menulis. Manusia boleh hilang di telan zaman, tapi sejarah yang akan mencatat (penulis) agar ia tetap hidup sepanjang zaman.
           

Tugas Mapel Al-Qur'an dan Hadits Kelas XI A dan B MA Misbahunnur

Clue: *Untuk Dapat Menjawab Pertanyaan Materi Al-Qur'an dan Hadits maka ada syarat dan ketentuan yang harus dikerjakan. *Syaratanya a...