Sunday, January 6, 2019

Puisi ''Goresan Rasa''



Oleh: Ma’zum Ibn Shabir

Kala gelap hadirkan terang
Kala sunyi hadirkan diam
Kala tentang hadirkan ego
Dan kalua itu aku pun tersesat

Memandang putih sebagai hitam
Memandang hitam sebagai putih
Pandangi langit kilauan tangis
Pandangi laut dapati jurang

Hingga
Gemuruh azan memanggil
Memaksaku tersadar
Terhampar di atas bahtera awan
Menuju alam hakikat
Temui keagungan-Nya
Dalam syair-syair do’a

Cimahi, 24-08-2018

Puisi ''Sang Nabi''


Sang Nabi

Oleh: Ma’zum Ibnu Shabir

Ku sebut Agung Namamu
Nama terbaik dari nama-nama yang baik
Kuingat pribadimu
Pribadi terbaik dari seluruh manusia terbaik

Syukurku
Bertakdir sebagai umat terbaik
Dibimbing oleh manusia terbaik

Tetapi maafkan aku
Tak mampu seperti sahabatmu Abu Bakar
Yang memperjuangkan harta dan jiwanya untukmu
Kalamnya selalu teringat
Aku hanya memiliki Allah dan Rasul-Nya

Maafkan Aku
Tak mampu seperti sahabatmu Umar
Kaki tak mampu berdiri tatkala mendengar kematianmu
Tak sanggup menjadi pembeda antara haq dan bathil hidupku

Maafkan aku
Tak mampu seperti sahabatmu Utsman
Yang engkau malu karenanya
Tak sanggup seperti Sayyidina Ali
Yang menjadi pelita ilmu
Tak mampu seperti alam
Yang senantiasa bershalawat menyebut namamu
Dalam setiap nafas hidupku

Aku hanyalah hamba-Nya
Dan bagian kecil dari umatmu
Senantiasa berlumur dosa
Tak terhitung bagai detik waktu
Yang Selalu berharap
Mendapatkan syafaatmu kelak
Melalui maulid nan suci

Cimahi, 19 November 2018
Puisi dibuat atas perenungan maulid Nabi Muhammad Saw

Pemimpin Berkarakter

Oleh: Ma’zum Ibn Shabir
 
Kekuasaan menurut Ibnu Khaldun merupakan jabatan kedudukan yang alami bagi manusia. Seba, manusia tidak mungkin dapat melangsungkan hidupnya dan melanggengkan eksistensinya, kecuali dalam sistem kemasyarakatan dan saling membantu di antara mereka dalam upaya memperoleh kebutuhan-kebutuhan pokok (Mukaddimah:328).

Dalam tradisi pondok modern, mewajibkan para santrinya untuk melalui fase pendidikan karakter melalui media organisasi santri. Khususnya bagi santri senior, diberikan amanah untuk menjadi pemimpin. Hal ini yang sangat berbeda dengan karakter pendidikan yang tidak diperoleh dari sekolah umum.

Kemajuan pondok pesantren adalah buah dari pemikiran atau ide-ide pimpinan pondok, guru-guru, pengurus, serta pihak-pihak eksternal yang terkait. Lihatlah bangunan-bangunan atau program yang selalu berkembang, demikian adalah gambaran dari ide-ide pengurus tersebut dalam standar lembaga pendidikan. Selanjutnya, hal tersebut menjadi sebuah bekal bagi para santri dalam keikutsertaan membangun sebuah bangsa. 

Mereka (santri) dituntut untuk berimajinasi menata sebuah negara, membuat peraturan perundang-undangan, memberikan sanksi dan bersikap bijak sebagai pemimpin. Tentunya dalam koridor kepemimpinan yang memiliki teladan. Kesempatan emas inilah yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh santri untuk menjadi sosok pemimpin idola mereka.

Dalam hal ini Umar bin Khattab pernah berwasiat, “Belajarlah sebelum kalian menjadi pemimpin.” Ima al-Bukhari mengomentari atsar ini, “Juga setelah kalian menjadi pemimpin, sebab, para sahabat tetap belajar meskipun sudah berusia lanjut.” Ibnu Hajar juga memberikan komentar, bahwa Abu Bakar mengatakan demikian khawatir dipahami bahwa kepemimpinan itu menghalangi seseorang untuk terus belajar. (Ensiklopedi Sahabat:187).

Menjadi pemimpin, harus bersiap diri menjadi jiwa pembelajar. Belajar dari kepemimpinan orang-orang yang benar. Jujur, adil, sederhana, mencintai rakyatnya, dan rakyat pun akan mencintainya. Lihatlah Abu Bakar ash-Shiddiq, pemimpin yang rakyat pun segan terhadapnya. Umar pun pernah mengatakan, “Lebih baik aku didahului lalu leherku ditebas oleh seseorang daripada diharuskan memimpin suatu kaum yang di antara mereka terdapat Abu Bakar.”

Abu Bakar terkenal dengan sifat lemah lembut. Akan tetapi mempunyai ketegasan yang tajam. Tatkala menjadi khalifah, ia dengan tegas memberangkatkan pasukan perang muslimin yang dipimpin oleh seorang Usamah bin Zaid (berumur 18 tahun) untuk berperag melawan romawi. Tidak sedikit sahabt memprotes keputusan tersebut. Akan tetapi, karena ini adalah amanah Rasulullah Saw sebelum wafat, Abu Bakar tetap berkomitmen.

Akhirnya denga izin Allah Swt. pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid memperoleh kemenangan. Padahal, jika dilihat dari sisi sosial-politik di Madinah yang masih kacau-balau tersebut, keputusan tersebut sangatlah berisiko besar bagi keamanan masyarakat di Madinah.

Ali bin Abi Thalib memberika komentar terhadap kepemimpinan Abu Bakar, “Engkau telah membuat orang setelahmu lelah, selelah-lelahnya.” Ungkapan ini menurut Ahli Sejarah, Ustadz Budi Ashari, Lc bermakna bahwa kepemimpinan Abu Bakar sangatlah susah untuk ditiru khalifah setelahnya sehingga membuatnya lelah. Demikian dalam berorganisasi, generasi pemimpin setelahnya mempunyai beban berat, yakni mewujudkan kepemimpinan yang lebih baik dari sebelumnya. 

Berbeda dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab mempunyai karater yang khas. Dengan ketajaman ilmu yang dimiliki. Umar adalah sosok pemimpin yang memiliki perpaduan antara ilmu dan amal, dibarengi dengan ketegasan dalam mengambil sebuah keputusan hukum. Tatkala akan diangkat menjadi seorang khalifah, Abdurrahman berkomentar atas perintah Abu Bakar, “Demi Allah, dia orang paling utama yang pernah kulihat, hanya saja sifatnya keras.”

Abu Bakar menanggapi, “Yang demikian itu karena dia melihatku terlalu lembut. Apabila urusan kekhalifahan ini diserahkan kepadanya, niscaya sifat keras itu akan luluh.” Dan benar saja, tatkla menjadi Khalifah ia berpidato di hadapan rakyatnya.

“Ketahuilah bahwa sifat keras itu telah melemah; memang masih ada, tetapi ia hanya ditujukan kepada orang-orag zalim dan orang-orang yang menyakiti kaum muslimin. Adapun mereka yang taat beragama dan bersahaja dalam kehidupan ini, sungguh aku lebih bersikap lemah lembut terhadap mereka daripada kelembutan yang terjalin di antara kalian.”

Dalam  berorganisasi, tidak semua anggota bagian dituntut untuk menjadi keras. Harus ada salah satu yang bersikap lembut. Hal ini menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Seperti dua karakter khusus yang dimiliki oleh Abu Bakar dan Umar. Selanjutnya, banyak karakter pemimpin dalam Islam yang patut ditiru dan dipelajari kehidupannya. Karena pemimpin yang baik pasti dicintai oleh rakyatnya. 

 خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ ». قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ فَقَالَ « لاَ مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلاَةَ وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلاَتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلاَ تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalia membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Kemudian ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah menentang mereka dengan pedang? Rasulullah Saw bersabda, “Tidak, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah-tengah kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yang kalian benci, maka bencilah amalannya dan janganlah melepas ketaatan kepadanya.” (HR. Muslim no.1855).
















Saturday, August 25, 2018

MENULIS MENUJU KEMERDEKAAN BERPIKIR



Oleh: Ma’zumi 

            Beberapa hari yang lalu seluruh masyarakat Indonesia merayakan eurforia kemerdekaan tuju puluh tiga tahun. Even tahunan ini, jika ingin dikritisi secara matang masih cenderung mengurusi hal yang “Remeh-temeh.”  Beragam jenis perlombaan yang kurang bernilai akademis. Akibatnya, nilai-nilai patriotisme yang ditanamkan para leluhur bangsa, sekejap hilang bersama teriak-tawa.

            Tulisan ini hanya ingin mengajak merenung. Seandainya mereka masih hidup, ridhokah mereka melihat gelak-tawa memeriahkan euforia tersebut? Sedangkan mereka rela memperjuangkan 
tanah air dengan kobaran api semangat, lautan keringat yang dibanjiri darah mulia para syuhada.

            Penulis pernah membaca pendapat seorang tokoh pengamat sejarah yang mengatakan, “Indonesia masih dijajah 1000 tahun lagi.” Ironis memang. Namun hal tersebut membuktikan kepada kita bahwa Indonesia masih mempunyai PR berat untuk memerdekakan bangsanya. Merdeka dalam berpikir, merdeka dalam menyampaikan pendapat di muka umum.


            Menulis menjadi salah satu metode atau langkah untuk memerdekakan pola pikir siswa secara akademis. Ada ungkapan menarik dari salah satu mentor saya, al-Ustaz Yudi Nurhadi. Beliau mengatakan, “Dengan menjadi penulis, kita merdeka secara berpikir.” Di sela-sela wawancara, ada kutipan menarik dari A. Fuadi (Novelis, Buku Negeri Lima Menara). Ia mengatakan, “Jangan terlalu fokus kepada Iqra (membaca) tetapi harus Uktub (Menulis).

            Kalimat sederhana tapi mempunyai makna yang dalam. Sebab, sepanjang penulis ketahui masih kurangnya perhatian dunia/lembaga pendidikan terhadap ranah literasi yang khusus pada bidang menulis. Akibatnya, nalar analisis pada siswa terkungkum dalam pemahaman yang sempit dan cenderung berpikir pragmatis.
          
Hakikatnya, lembaga pendidikan dan beragam aktifitas akademis di dalamnya tidak terlepas dari budaya literasi. Mengingat hal ini akan menjadikan nalar berpikir kaum terpelajar terpancing menjadi emosi berpikir kreatif akademis. Sumber buku perpustakaan yang minim, kurangnya minat membaca nampaknya masih menjadi masalah yang serius. Penyakit kronis yang amat susah untuk disembuhkan. 


Dilansir dari situs CNN Indonesia. Minat baca masyarakat Indonesia disebut masih rendah bila dibandingkan negara lain. Dari data Perpustakaan Nasional tahun 2017, frekuensi membaca orang Indonesia rata-rata hanya tiga sampai empat kali per minggu. Sementara jumlah buku yang dibaca rata-rata hanya lima hingga sembilan buku per tahun.

Dliansir dari Kompas (9 april 2018) memberitakan tentang survei Unesco di tahun 2012. Minat baca orang Indonesia mengkhawatirkan. Menurut survei UNESCO 2012, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen: di antara 1.000 warga negara Indonesia, hanya ada seorang yang serius baca.

Miris memang. Namun seperti itu realita di lapangan. Menulis memang mempunyai manfaat yang beragam. Salah satunya adalah pemikiran kita bisa dikenal oleh seseorang. Manfaat menulis tidak akan hilang meskipun penulis sudah terkubur di dalam tanah. Teringat ungkapan Chairil Anwar, “Aku ingin hidup 1000 tahun lagi.” Terbukti. Sampai saat ini karya-karyanya masih bisa dinikmati penikmat sastra.


Tidak lupa ulama-ulama terdahulu yang saat karya pemikiran mereka “Tertulis” dalam bentuk kitab-kitab klasik. Masih bermanfaat keilmuannya. Terbayang, seberapa besar keberkahan/pahala yang mengalir hingga saat ini. Namun, dalam tulisan ini hanya mengajak pembaca untuk menuju kemerdekaan berpikir. Tidak terkekang dalam pemahaman yang sempit.

Untuk itu, tatkala lembaga pendidikan tidak memperhatikan dunia literasi. Maka bersiap-siaplah mencetak generasi pelajar pragmatis. Hal yang menjadi problematika besar adalah, pendidik tidak mampu membedakan antara lembaga pendidikan dan lembaga bisnis. Tidak pula mampu menganalisis lembaga pendidikan dan lembaga politik. Mengejar kuantitas tetapi apatis terhadap kualitas.

Tugas Mapel Al-Qur'an dan Hadits Kelas XI A dan B MA Misbahunnur

Clue: *Untuk Dapat Menjawab Pertanyaan Materi Al-Qur'an dan Hadits maka ada syarat dan ketentuan yang harus dikerjakan. *Syaratanya a...