Kisah fiktif santri, kritik sosial.
Emon dan Unes suatu ketika mengadu permasalahan hidup. Dua santri cerdik dan cerdas ini ternyata memiliki masalah hidup yang besar, beban hidup yang menurutnya sudah tidak dapat ditangani dengan kecerdikannya. Untuk itu, ia mengadu permasalahan ini kepada Kang Ustaz.
Alih-alih mendapatkan solusi, Kang Ustaz malah menasihati mereka agar jangan menjadi beban hidup bagi orang lain.
Unes, "Kami butuh solusi Ustaz!" Pintanya dengan penuh harap.
Utaz, "Janganlah mengeluh tentang beban hidup, dan janganlah hidupmu menjadi beban buat orang lain. Beban mata, beban telinga, beban intelektual, beban umat." Jawabnya.
Emon yang lama terdiam, tiba-tiba bertanya, "Apa maksud dari jawaban panjenengan Ya Ustaziy (wahai guruku)?"
Ustaz, "Semua orang mempunyai beban hidup, tinggal bagaimana kreatifitas manusia menghadapinya. Yang perlu kalian perhatikan adalah agar jangan menjadi beban hidup bagi orang lain:
1. Beban mata: Jangan sampai orang yang melihat perilakumu, mereka terasa bosan karena apa yang kamu lakukan merugikan orang lain, sehingga mata mereka tidak ridho. Kehadiranmu di mata manusia tidak diharapkan. Bahkan terhadap orang-orang terdekatmu.
2. Beban Telinga: Jangan sampai orang lain sibuk mendengar kabar aibmu, sementara kamu senantiasa merasa nyaman dengan perbuatan dosa-dosamu. Hal ini dikarenakan banyaknya dosa-dosamu terhadap ligkungan sekitar yang merugikan orang lain.
3. Beban Intelektual: kalian adalah orang-orang berpendidikan, jangan sampai perilakumu mencederai gelar akademisimu. Melakukan hal-hal sepele yang tidak layak disandang bagi kaum terdidik.
4. Beban Umat: janganlah hidup mementingkan diri sendiri, berlomba-lomba meminta tanpa ada hasrat untuk memberi. Umat masih membutuhkan sosok seperti kalian, yang menebar manfaat sesuai dengan peran masing-masing."
Mendengar nasihat tersebut, keduanya mengurungkan diri untuk meminta solusi lebih lanjut. Mereka paham apa yang harus mereka lakukan. Akhirnya mereka mohon pamitkarena merasa beban hidupnya telah hilang.
_fiktif.santrikritiksosial_