
Oleh: Ma’zumi
Kualitas seseorang bisa dilihat dari
bagaimana caranya berbicara, makan, minum, bergaul, berpikir, berdisiplin; baik
dalam ibadah atau hal-hal lainnya, hingga urusan masuk ke kamar mandi sudah ditentukan
adab-adabnya dalam syariat Islam. Sungguh indah apa yang telah diperintahakn
oleh Allah dan rasul-Nya dalam hal apapun. Karena semua syariat bersifat
universal, tanpa memandang umur dan kultur budaya suatu daerah.
Ada beberapa hal yang mencederai
kepribadian kita yang berpredikat sebagai
seorang mukmin. Pertama, kepribadian dalam berucap atau bertutur
kata. Kedua, loyalitas kita terhadap al-Qur’an. Sering kita berucap dan
bertutur kata yang tidak baik, bahkan berkata jorok sekalipun sudah menjadi
budaya yang apatis terhadap nilai-nilai kepribadian yang hakiki.
Tentunya hal tersebut sudah
dipengaruhi dari nontonan sehari-hari, atau lingkungan yang tercemari dari
perilaku orang-orang yang tidak terdidik. Yang tidak masuk akal adalah ketika
pelanggaran tersebut dilakukan oleh kaum akademisi yang notabene mengerti akan
nilai-nilai dari keagunan sebuah cara bertutur kata.
Tatkala lisan tidak dapat dijaga
sesuai dengan fungsinya, maka ia akan lepas kendali dengan mengatakan hal-hal
yang haram. Contoh kecil adalah ghibah. Termasuk dosa-dosa yang dianggap biasa.
Justru lebih mudah dilakukan mengingat media sosial yang ada di genggaman
tangan disalah-gunakan. Lima detik kemudian seluruh orang bisa mengetahui aib
dari apa yang diinformasikan. Lantas apa kaitannya dengan kanibal?
Kata “Kanibal” dalam perbendaharaan
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI offline) setidaknya mengandung tiga arti;
orang yang suka memakan daging manusia (pemakan daging sejenis), binatang yang
suka membunuh dan suka memakan daging binatang yang sejenis, dan ternak yang
suka menggigit dan mematuk temannya hingga terluka. Sedangkan penganibalan
memiliki arti proses, cara, perbuatan memakan daging dari makhluk yang sejenis.
“Janganlah kamu mencari-cari
kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang
lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudanya yang telah
mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Qs. Hujurat:
12).
Pelaku ghibah layaknya seorang
kanibal. Ia rela memakan daging saudaranya sendiri dan tidak merasa jijik
terhadapnya. Menggunjing dengan tujuan menjatuhkan, membunuh karakter teman
yang sedang berpikir maju, hingga ia senang jika temannya benar-benar jatuh dan
mati prestasinya. Sungguh manusia jenis kanibal ini sangat berbahaya bagi
lingkungan sekitar.
Selanjutnya yang perlu dijauhi
adalah agar kita tidak menjadi seorang mukmin yang berkepribadian kurma. Ia
yang rasanya manis, tetapi tidak memiliki aroma yang harum. Ia yang enggan
menyempatkan sekejap waktunya untuk berkhalwat bersama al-Qur’an. Yakni mereka
yang lupa bahwasanya kebahagiaan itu ada
dan terdapat ketika kiata hidup bersama al-Qur’an.
وَعَنْ أَبِيْ مُوْسَى الْأَشْعَرِيْ رَضِيَ اللهُ
عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {مَثَلُ
الْمُؤْمٍنٍ الَّذِيْ يَقْرَأُ الْقُرْآن مِثْلُ الْأُتْرُجَةِ, رِيْحُهَا طَيِّبْ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ.
وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ, لَا
رِيْحَا لَهَا وَطَعْمُهَاحُلْوٌ.
وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِيْ يَقْرَأُ لْقُرْآنَ كَمَثَلِ
الرَّيْحَانَةِ, رِيْحُهَا طَيِّبْ وَطَعْمُهَا مُرٌّ, وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ
الَّذِيْ لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ, لَيْسَ لَهَا رِيْحٌ
وَطَعْمُهَا مُرٌّ}. رواه البخاري ومسلم.
Diriwayatkan dari Abu
Musa Al-Asy’ari r.a, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Perumpamaan
seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah, aromanya sedap dan
rasanya lezat; perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti
buah kurma, tiada baunya tetapi rasanya manis; perumpamaan seorang munafik yang
membaca Al-Qur’an seperti raihanah, aromanya sedap tetapi rasanya pahit;
sedangkan perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti hanzhalah,
tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR.Bukhari dan Muslim).
Lantas bagaimana kepribadian mukmin
yang sesungguhnya? Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan orang beriman itu
bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeuarkan sesuatu yang bersih, hinggap
di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya).”
(HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar).
Marilah berpikir sejenak tentang apa
yang sudah kita perbuat, baik dalam gerak langkah atau ucapan lisan yang keluar
sehari-hari, sudahkah sesuai dengan kepribadian lebah? renungkan hingga dari
hati yang terdalam, apabila kita sering mengungkapkan sesuatu yang “kotor” maka
apa bedanya lisan kita dengan “Tempat sampah? Wallahu A’lam. Semoga kita
diberikan petunjuk oleh Allah Swt.
